Dalam periode akhir 1930-an hingga akhir 1990-an, para pelukis Indonesia menghasilkan berbagai macam karya seturut probelamtika serta keunikannya. Sebagian besar karya tersebut tersimpan di tangan para kolektor. Jika dilihat dan ditampilkan lagi, akan tampak terang benang merah sejarah seni lukis Indonesia. Berikut adalah sekedar ikhtisarnya
Lukisan masterpiece diantaranya "Me and Three Venuses" (1947) karya S Sudjojono, "Chained Boar" (1964) karya Affandi, "To You People of Jogja" (1949) karya Soedibio, dan "The COrn Eater" (1988) karya Sudjana Kerton. Empat pelukis ini merupakan tokoh seniman yang berjasa mengguratkan coarak-corak seni lukis Indonesia di era tahun 1930-an. Sosok Sudjojono pada masa itu bahkan berani mendobrak tren lukisan Nusantara yagn cenderung mengeksplorasi eksotika timur, mooi indie atau Hindia yang molek.
Representasi yang dipermasalahkan sudjojono adalah anggapan tersebut berdasarkan obyektivitas negara-negara Barat. Bagi sudtu pandang yang lain, Timur sejatinya adalah yang otentik, timur yang sedang diisap oleh kolonialisme, ditindas, dan dijadikan titik perluasan kapitalisme barat.
Karena itulah, Sudjojono mengimbau para pelukis pada zaman itu untuk melukis pabrik-pabrik gula, petani kurus, mobil orang kaya, busana kaum perkotaan, dan aneka macam potret ketertindasan orang timur. Keberanian Sudjojono menggugat hegemoni Barat menadikan dia dipercaya sebagai bapak seni lukis modern Indonesia.
Sudjojono, sang pendiri persatuan Ahli-ahli Gambar (Persagi) tahun 1938, ini mengalami sejumlah periode zaman, mulai dari kolonial, Jepang, revolusi, hingga Orde Baru. Karena itu, karya-karyanya turut menginspirasi banyak pelukis termasuk pelukis-pelukis kawakan, seperti Affandi, Soedibio, Nashar, dan Oesman Effendi.
Setelah menerima inspirasi dari lukisan-lukisan Sudjojono, para seniman ini mengembangkan gaya mereka masing-masing menjadi sebuah identitas baru dalam setiap lukisan mereka.
Fenomena berbeda berkembang di lingkungan para pelukis Bandung yang tidak pernah bersentuha nlangsung dengan Sudjojono.
Tahun 1950-an seniman lukis Bandung banyak belajar dari dosen-dosen seni rupa Barat sehingga muncullah But Muchtar dengan gaya lukisan geometrik, kubistik yangmewakili generasi seni lukis modern. Tak seperti pelukis lain yang mengambil tema alam, budaya atau persoalan sosial, But Muchtar lebih menangggap lukisan sebagai ruang eksplorasi diri pada bidang, bentuk, komposisi, warna, atau garis-garis.
memasuki era sebelum dan sesudah tahun 1965, tampillah dua pelukis kekiri-kirian AD Pirous dan Djoko Pekik. Karya-karya lukisan pda masa ini banyak diwarnai fenomena kekerasan dan penindasan seperti yang ditampilkan Djoko Pekik dalam beberapa karyanya yang menyimbolkan ekspresi-ekspresi penderitaan rakyat.
Selang beberapa tahun, pada era 1970-an, tema-tema kemodernan, identitas dan kepribadian nasional megngalami redefinisi dan reevaluasi. Beberapa seniman, seperti Siti Adiyati, FX Harsono,d an Dede Eri Supria terlibat dalam aksi Desember Hitam yang mengkritisi kemapanan estetika seni lukis dan sempitnya ruang gerak bagi para seniman muda.
Pada masa ini muncul Gerakan Seni Rupa Baru (GRSB) yang fenomenal dan membuka jalan bagi kemunculan karya nonkonvensional dalam tradisi fine art.
Melangkah ke era 1980-1990-an, karya-karya surealisme bermunculan. pada masa ini pula, banyak seniman yang menampilkan karya-karya bernapas demokratisasi di tengah tekanan rezim orde baru. sebagian di antaranya lebih memilih melukis dengan bahasa abstrak, tidak omong apa-apa, tidak merepresentasikan apa-apa, dan hanya menampilkan keindahanbentuk serta warna.
Setalah Orde Baru berlalu, mencuatlah beberapa seniman dengan napas yang relatif sama seperti Nasirun, Entang Wiharso, juga Heri Dono yan gmengombinasikan khazanah tradisi lokal dengan narasi wayang dan bentuknya yang serba pipih. Logika mereka seolah-olah layaknya dalang semua. Meski demikian, tema-tema satire mengkritisi situasi politik negara tetap mengemuka,seperti yang ditampilkan Yuswantoro Adi dalam lukisan-lukisannya.
Meski pada awalnya karya-karya tersebut terpisah-pisah dalam fragmen-fragmen tersendiri, namun setelah disandingkan satu sama lain maka terlihat bahwa seni lukis Indonesia mempunya benang merah. Intinya, semua seniman gelisah dan ingin mencari identitas yang khas Indonesia.
Catatan:
Nama S. Sudjojono boleh jadi sudah dikenal luas oleh publik seni di
Tanah Air. Tapi, seberapa dalam sebenarnya kita memahami sosok, karya
maupun pemikirannya?
Pada 25 Maret 1986, ketika Sudjojono wafat,
dunia seni rupa Indonesia berkabung dan merasa kehilangan. Kini dalam
rentang seabad kelahirannya (1913-2013), kita kembali mengenangnya
sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru. Julukan terhormat ini
dideklarasikan oleh kritikus Trisno Sumardjo melalui esai panjangnya, S.
Sudjojono: Bapak Seni Lukis Indonesia Baru (1949). Adalah Trisno
Sumardjo pula yang mengatakan, Sudjojono adalah “bunyi nafiri yang
mengeluarkan suara baru… Orang yang pertama-tama menyadarkan pembaharuan
serta melaksanakannya di dunia kenyataan, baik dengan membuat
lukisan-lukisannya, maupun dengan memancarkannya ke dalam masyarakat”.
Sastrawan Rivai Apin tak ragu mengukuhkan kepeloporannya: “Di Indonesia
yang memulai seni lukis ialah Sudjojono.” Bagi kita, Sudjojono adalah
orang pertama yang mendefinisikan istilah “seni” seraya mempopulerkan
istilah “seniman”. Dia pula yang menciptakan kata “sanggar” dan
“pelukis”.
Di masa Persagi (Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia;
1938-1942), lukisan-lukisannya menentang kehalusan kuas serta
kecerlangan warna para pelukis naturalis yang dominan kala itu. Sapuan
kasar dan warna-warna kusam adalah representasi penentangan Sudjojono,
melahirkan antara lain lukisan Sayang Kami Bukan Anjing (1942). Sampai
akhir hayatnya, ratusan karya –dengan beragam tema dan kekhasan teknik
melukis- telah lahir dari tangannya, membuat sosoknya menonjol di antara
para pelukis maestro Indonesia lainnya.
Memang, Sudjojono sosok
–seniman dan pribadi- yang kompleks tentu saja. Dengan khidmat ia
mengatakan bahwa dalam seni, “kebenaran” justru tak terpisah dari segi
“kebagusan”. Baginya, itulah “pedoman seni lukis baru”. Seorang seniman
adalah seorang pencipta dengan “jiwa besar”. Jiwa atau “watak” besar itu
dengan sendirinya tampak pada hasil kerja seninya yang melampaui zaman:
seni tak lain adalah “jiwa tampak”. Kredo itulah yang kini telah jauh
melampaui masa hidup sang pencetusnya sendiri.
Tak syak, ia pun
penganjur nasionalisme dalam seni lukis, yakni keniscayaan bagi seniman
untuk menjadi “teman bangsanya sendiri”, tapi baginya “sari kesenian
harus internasional”. Bagi Sudjojono, itu tak niscaya berarti “politik”,
tapi soal rasa-merasa yang perlu dihayati oleh seniman. Sesungguhnya,
Sudjojono pula yang memulai tradisi polemik dan kritik dalam seni rupa
di Indonesia, dan –dengan nada profetis- selalu merasa tahu “kemana seni
lukis Indonesia akan (kami) bawa.” Pendek kata, merenungkan kembali
sosok ini adalah menemukan kembali sikap dan aura kesenimanan, narasi
kebangsaan, pandangan politik dan tentu saja juga roman kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar