From Russia with Love, demikian judul film kedua James Bond yang dibintangi Sean Connery. Film yang diangkat dari novel karya Ian Flemming (1957) dengan judul yang sama, From Russia With Love itu dirilis pada tahun 1963. Dalam film diceritakan, James Bond dikirim untuk membantu seorang juru tulis konsulat Uni Soviet di Turki, Tatiana Romanova, yang membelot. Film ini diakhiri dengan adegan romantis antara Bond dan Romanova di Venesia.
Kini, kunjungan Menly Rusia Sergey Lavrov dan Menhan Sergey Shoygu ke Kairo, Mesir ( 15 Novemvember 2013) mengingatkan pada film itu.
Memang, cerita dan konteksnya berbeda. Film James Bond dibuat ketika Perang Dingin sedang kuat, kini Uni Soviet sudah tidak ada, yang ada tinggallah Russia yang tak sebesar Uni Soviet dulu meskipun pengaruhnya tetap luas, besar, dan kuat. Perang Dingin model lama yakni pertarunan dan perebutan pengaruh antara Blok Timur dan Blok Barat sudah tiak ada, yang kini digantikan oleh Perang Dingin dalam bentuk baru yakni persaingan antara Rusia dan Amerika Serikat.
Apa yang terjadi di Timur Tengah, setelah "Arab Spring", bahkan sekarang, hawa persaingan itu sangat jelas terasa. Kunjungan Lavrov dan Shoygu ke Kairo pun bisa dibaca dalam konteks persaingan antara Rusia dan Amerika Serikat (meskipun dibalut dengan menandai 70 tahun hubungan diplomasi kedua negara). Pasalnya, sangat kebetulan sekali, sebulan sebelumnya Amerika Serikat menangguhkan bantuan militer tahunannya kepada Mesir, termasuk pembayaran dan penyerahan pesawat tempur F-16, helikopter, dan tank pesawat, serta latihan militer bersama. Keputusan Amerika Serikat itu diambil setelah penggulingan Presiden Muhammad Mursi oleh militer. Sejak saat itulah Kairo menoleh ke Moskwa, dan tentu saja disambut dengan tangan terbuka: Dobro pozalovat alias selamat datang!
Sejarah mencatat, hubungan Rusia-Mesir sudah berlangsung lama, naik turun. Hubungan begitu dekat ketika di zaman Gamal Abdul Nasser (1960-an) ditandai, misalnya, dengan pembangunan dam di Sungai Nil (High Dam). Di zaman Anwar Sadat awal 1970-an, hubungan kedua negara memburuk, dan Kairo membangun aliansi dengan Washington. Bahkan, atas prakarsa dan dorongan AS, Mesir menandatanani perjanjian perdamaian dengan Israel. Di zaman Hosni Mubarak, hubungan kedua negara naik turun. Mubarak pernah menoleh ke Moskwa. Dan setelah "Arab Spring", hubungan Mesir dan AS kurang hangat lagi karena Washington tidak suka pada tindakan militer.
Kini, Rusia muncul lagi dengan setumpuk komitmen, membangun reaktor nuklir, menjual rudal, menjalin kerja sama energi, ilmu pengetahuan, dan industri, serta kkerja sama intelijen terkait dengan masalah Chechnya.
Begitulah .. from russia with love without Mr Bond
Tidak ada komentar:
Posting Komentar