Bapak Bangsa seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Tan
Malaka begitu menggilai sepak bola. Bagi mereka, sepak bola merupakan
warisan bangsa yang harus dijaga karena mengandung seni serta pelbagai
inspirasi untuk membangun negeri.
Sejak era 1930-an, Indonesia
sudah merasakan pesta luar biasa dari sepak bola. Lihat saja ketika
Indonesia menjadi satu-satunya tim Asia Tenggara yang pernah tampil di
Piala Dunia 1938, meski kala itu masih dengan nama West Indies karena
Nusantara masih dalam kekuasaan kolonial Belanda.
Selepas
merdeka, Indonesia tetaplah merupakan macan Asia. Bahkan, Indonesia
pernah menahan Rusia 0-0 di Olimpiade Melbourne, Australia, pada 1956.
Itu sebuah partai dramatis dan bersejarah pun inspiratif, mengingat
Rusia adalah tim raksasa di Eropa kala itu, dan akhirnya meraih medali
emas.
Sederet nama-nama besar seperti Ramang, Maulwi Saelan,
Sutjipto Suntoro, Ronny Paslah, Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, Hery
Kiswanto, dan Ricky Yacobi adalah bukti bahwa Indonesia sempat masuk ke
dalam pesta sepak bola di Asia Tenggara sejak 1950-an sampai awal
1990-an.
Pada 1988, misalnya, Indonesia masih bisa mencapai
semifinal Asian Games di Seoul, Korea Selatan. Kemudian, pada 1991,
Indonesia merebut medali emas SEA Games di Manila. Setelah itu,
nir-gelar, hingga para talenta muda di skuad timnas U-19 melepaskan
sedikit dahaga pada Piala AFF 2013 serta Kualifikasi Piala Asia 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar