Kamis, 05 Desember 2013

Chernobyl dan Revolusi Belum Selesai

Bulan April, tanggal 20, tahun 1986.  Hari Sabtu, pukul 01.23.40.  Ketika hari belum lama berganti, dan penduduk kota Pripyat, Ukraina bagian utara, masih enak-enaknya tidur, reaktor nomor empat di Pembangkit Listrik Tenag Nuklir Chernobyl di dekat kota itu meledak.

Kepanikan mendadak menguasai kota berpenduduk 49.360 orang yang didirikan pada 1970 itu.  Pripyat, kota yang terletak dekat perbatasan dengan Belarus, merupakan kota nuklir kesembilan Uni Soviet. Bencana Sabtu dini hari itu dianggap sebagai kecelakaan nuklir paling buruk sepanjang sejarah.  Stelah tragedi itu, Pripyat menjadi kota hantu, ditinggalkan oleh penduduknya yang banyak terpapar radioaktif.

Lima tahun kemudian, komunisme bangkrut, Uni Soviet ambruk.  Ukraina, salah satu republik Uni Soviet, menjadi negara merdeka.  Sepertinya, pada waktu itu, Ukraina akan menulis sejarah baru sebagai negara merdeka.  Namun, gambaran itu tidak benar sepenuhnya.  Ukraina dikuasai oleh oligarki politik yang dikembangkan oleh Leonid Kuchma sebagai presiden pertama Ukraina setelah merdeka.

Pecahnya Revolusi Oranye mulai 22 November 2004 hingga 23 Januari 2005 menjadi indikasi betapa masih kuatnya pengaruh kekuatan politik Rusia.  Revolusi pecah sebagai bentuk perlawanan terhadap kelas menengah yang diorganisasi oleh kelompok oposisi, seperti Yulia Tyomoshenko, dan Viktor yuschenko.

Perlawanan bermula dari ketidakpuasan hasil pemilu yang dimenangi oleh Viktor Yanukovich dukungan rezim, yang mengalahkan tokoh pro-barat Viktor yushchenko.  Kelompok oposisi menganggap pemilu tidak fair, curang, dan diselenggarakan oleh rezim yang korup.  Oposisi menuntut pemilu diulang.  Rakyat turun ke jalan.  Pemilu diulang dan dimenangi yushchenko.  Namun, kinerja Yushchenko tidak bagus sehingga dalam Pemilu 2010 ia dikalahkan oleh musuh lamanya, Yanukovych, yang didukung oleh rakyat Ukraina bagian selatan dan timur yang lebih pro-Rusia.

Sekarang (Desember 2013), Yanukovych diprotes rakyatnya.  Ratusan orang turun ke Lapangan Kemerdekaan di Kiev.  mereka ini adalah kaum muda yang masih begitu muda untuk mengingat Revolusi Oranye 2004.  Karena itu, kalaupun revolusi kali ini disebut sebagai revolusi kedua, bukanlah Revolusi Oranye kedua.  Rakyat tidak puas dengan kepemimpinan Yanukovych yang menjanjikan perbaikan ekonomi dan sosial, tetapi tak terbukti.  Yang terjadi malahan ribuan atau malah jutaan warga Ukraina dipaksa mencari kerja ke luar negeri.

Kebijakan pemerintah yang tidak segera mau bergabung dengan Uni Eropa yang diangap sebagai jalan untuk memperbaiki Uni Eropa yang dianggap sebagai jalan untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan lebih condong ke Rusia (kebutuhan gas Ukraina sangat bergantung pada Rusia) menjadi pemicu gerakan kaum muda saat ini.

Pada akhirnya, demonstrasi kali ini mempertegas bahwa selain masalah ekonomi, masih belum adanya identitas nasional, terpecahnya masyarakat (etnik Rusia dan etnik Ukraina), dan belum selesainya masa transisi sejak 1991 menjadi masalah utama di negeri yang juga dibelit korupsi ini.  "Revolusi belum Selesai"  begitu kata Bung Karno.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar