Semasa kanak-kanak, anak adalah sosok polos dan jujur. Seiring perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan sosial, anak berubah. Pergaulan dengan orang-orang sekitar membentuk kepribadian dan pola pikir mereka menjadi manusia dewasa.
Otak anak sudah berkembang pesat saat usia remaja. Pemahaman abstraknya mulai berkembang, mengganti pemahaman konkret masa kanak-kanak.
Saat itulah remaja mulai merencanakan tindakan, termasuk kekerasan. Mereka memiliki gambaran tentang apa yang akan dilakukan beserta akibatnya, tetapi belum mampu memikirkan dampak jangka panjangnya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam sejumlah perkelahian remaj, sebagian membekali diri dengan pedang, samurai. Mereka menyadari dan paham bahwa senjata tersebut dapat melukai atau membunuh orang lain. Namun, mereka belum paham, jika seseorang mati, banyak orang kehilangan. Ia pun terancam dipenjara, mempermalukan orangtua, dikucilkan, kehilangan kesempatan bersekolah dan lain lain. Semua dampak panjang itu belum muncul dalam pikiran remaja.
Bagian otak yang mengelola emosi pada remaja matang lebih dulu dibandingkan bagian otak yang mengelola pikiran rasional.
Sistem limbik atau bagian otak yang mengelola emosi amtang saat anak berumur 16-18 tahun. Sementara korteks prefrontalis atau bagian depan otak ynang bertanggung jawab pada kemampuan berpikir kritis atau rasional baru matang pada usia 18-20 tahun. Ini membuat emosi remaja sering meledak-ledak, tetapi pengambilan keputusannya kurang bagus.
Psikolog perkembangan di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani atau Nina, Jakarta, 27 November 2013.
Kekerasan oleh anak merupakan bentuk perlawanan atas tekanan dan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Pola asuh orangtua atau cara guru mendidik yang penuh kekerasan dan tak mengembangkan berpikir kritis, pertengkaran orang dewasa, senioritas di sekolah, hingga tayangan kekerasan di televisi atau video game tertanam dalam bawah sadar anak..
Saat datang ancaman, pikiran kekerasan itu muncul. Kekerasan dianggap satu-satunya solusi menyelesaikan persoalan. Rasa empati dan kasih sayang yang ditanamkan pada anak sejak kecil tak mampu melawan berbagai perilaku kekerasan yang telanjur memenuhi otak anak.
Kepercayaan anak pada orangtua atau guru dan orang dewasa di sekitar mereka bisa membentengi dari perilaku-perilaku melanggar norma. Namun, kepercayaan itu harus dipupuk terus karena bisa mengendur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar