1914. Kala belahan dunia lain berkecamuk dengan Perang Dunia I, Kota Semarang justru bersolek cantik menyambut pameran kolonial bertajuk "Koloniale Tentoonstelling". Oleh warga Semarang, disebut Sentiling, yang lebih mudah dilafalkan sesuai lidah pribumi.
Pameran kolonial sekaligus pasar malam terbesar di Asia Tenggara ini merupakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis. Ya, ironisnya, peraayaan tersebut justru diselenggarakan di Indonesia yang notabene adalah tanah jajahan Belanda. kendati demikian, tidak menyurutkan hati para pengunjung yang berdatangan dari Jepang, China, Australia, negara-negara Eropa maupun Asia, serta daerah jajahan Belanda yang lain.
Semarang pada masa itu memang menjadi salah satu denyut utama bagi pemerintahan kolonial. Posisinya yang strategis, menjadikannya pusat perdagangan dengan ekayaan hasil perkebunan komoditas ekspor. Gula, karet, teh, kopi dan tembakau adalah di antaranya. Ditengarai, perhelatan Sentiling yang sangat besar itupun sebagian didanai oleh Raja Gula asal Semarang, yakni Oei Tiong Ham. Tanah seluas 26 hektare yang membentang dari Randusari hingga kaki perbukitan Candi, tempat perhelatan besar itu, tak lain adalah miliknya.
Demikian pentingnya posisi Semarang, terutama sebagai bagian dari jalur perdagangan, di kota ini pulalah jhalur kereta api yang pertama di Indonesia dibangun. Tepatnya pada 16 Juni 1864, yang dimulai dari Semarang menuju Solo dan kedungjati, Surabaya, Magelang, dan yogyakarta. Selanjutnya dibangun dua stasiun kereta api lainnya yang masih ada hingga hari ini, yakni Tawang dan Poncol. Pengelola kereta api ini dipegang oleh Nederlandsc Indische Spoorwagen (NIS) yang berkantor pusat di gedung yang kini dikenal dengan sebuta Lawang Sewu.
Di Semarang pula terdapat mercusuar yang diberi nama Willem 3, terletak di kawasan pelabuhan Tanjung emas dan menjadi satu-satunya mercusuar di Jawa Tengah. hal ini merupakan bagian dari rencana pemerintah kolonial Belanda menjadikan Semmarang sebagai kota pelabuhan dan dagang, serta memperlancar perdagangan dengan mancanegara. menjelang akhir abad ke-19, Jawa merupakan penghasil gula nomor dua di dunia setelah Kuba.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar