Duet Bung Karno dan Bung Hatta, pasangan duet ini juga mempunya selera yang cukup sama, misalnya pemilihan mobil dinas kepemerintahan.
Kalau Bung Karno memiliki mobil Buick 1938 untuk dijadikan mobil dinasnya. Bung Hatta menggunakan mobil DeSoto produksi 1942 untuk menjalani aktivitas perjuangan beliau. Mobil ini merupakan hadiah dari Djohan Djohor, seorang pengusaha di Jakarta sebagai bentuk soidaritas mendukung perjuangan Bung Hatta.
1942 DeSoto tampil dengan grill lebar, fender berkarakter unik, dan sentuhan krom pada beberapa bagian bodinya. Bentuk bodi yang menyerupai "roket' menjadi daya tarik ersendiri bagi siapapun yang melihatnya. Pada 1942 DeSoto disematkan mesin 6 silinder yang sanggup melesakkan tenaga hingga 115 tenaga kuda. Konon, mobil ini tersedia dalam dua varian coupe, yaitu tipe deluxe serta custom trim, yang mampu membawa 3 dan 6 penumpang.
Pelat nomor mobil ini pernah diubah Bung Hatta dari REP 2 menjadi FEP 17845 yang merupakan pelat nomor kebanggaannya. Menurut Imron, Kepala UP Museum Joang '45 meskipun memiliki nilai sejarah yang tinggi, kendaraan idinas Bung Hatta ini sempat menjadi barang rongsokan. Bahkan, pemiliknya sempat membelah mobil ini menjadi dua untuk dijadikan angkutan umum sejenis oplet di daerah Karawang, Jawa Barat (.. bodoh sekali bukan? ...)
Namun, untungnya pda 1975 pemerintah memperbaiki mobil ini hingga bentuknya kembali seperti sedia kala. Ya, mobil dinas kepresidenan pun merupakan peninggalan bersejarah masa awal kemerdekaan. Mobil-mobil yang mereka pakai menjadi saksi bisu perjalanan Bangsa Indoneisa yang tidak boleh dilupakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar