Kamis, 12 September 2013

Kecil disayang, besar dimanja, tua disia-sia

Renungan ....

Jika tengah berjalan-jalan di desa, coba tengok kanan dan kiri ...
di banyak tempat, bisa dengan mudah ditemui seorang tua yang duduk sendiri dengan mata menerawang (bukan gila loh...)
coba bayangkan perasaannya, teman-teman yang sudah jauh-kalau tidak sudah meninggal satu per satu, suami/istri yang telah meninggal, dan anak yang telah dewasa dan bekerja di tempat berbeda-beda.

Coba tonton di E! (tidak bermaksud mengiklan-kan), disitu ada sebuah acara yang menggambarkan para selebritis memanjakan buah hatinya dengan barang-barang mewah (yang bahkan si anak nggak bakalan ngerti). Contoh, dot ompong (nggak ada tempat susunya), dari Ivy Blue Carter yang bertaburkan batu mulia, renovasi kamar putra putrinya Sarah Jessica Parker dan Jessica Alba.  Pada channel lain, di BBC Knowledge, pernah suatu ketika si Steven Taylor cerita di acara Top Gear, bahwa dia suka mengendarai mobil sport mewahnya bersama sang putra sambil mendengarkan lagunya AC/DC.

Semuanya menggambarkan kasih sayang orang tua yang ..... (silahkan bayangkan sendiri)

Mari kita seret waktu hingga merangkak ke usia 30 tahun, ketika sudah  membangun rumah tangga masing-masing, mencoba masuk pada salah satu kelas sosial dan ekonomi dengan nabung beli rumah, beli mobil, beli barang-barang sekunder untuk mendapatkan kedaulatan bahwa kita telah berhasil...
sementara orang tua kita semakin renta, semakin tua, semakin rapuh, dan kadang seolah semakin rewel.

Dimanakah saya, anda, kita?

Menteri Sosial Salim Segaf Al'Jufrie mengungkapkan, sekitar 2,8 juta warga lanjut usia dikategorikan terlantar.  Mereka hidup di jalanan, rumah, atau panti, tetapi tidak mendapat asupan makanan dan minuman yang cukup serta minim mendapat layanan kesehatan dan kasih sayang.  Padahal, di Indonesia ada 20 juta warga lanjut usia (terbesar keempat di dunia).

Seyogyanya, panti jompo merupakan pilihan terakhir untuk mereka yang tidak lagi punya keluarga.  Menelantarkan warga lanjut usia, merupakan tindakan yang bertentangan dengan budaya ketimuran, termasuk Indonesia yang menjunjung tinggi norma kekeluargaan dan keagamaan. 

Pemerintah pun juga masih terbatas menangani warga lanjut usia.  Pemerintah baru mampu menangani dan membiayai 50.000 warga lanjut usia di panti-panti jompo per tahun.  Pemerintah daerah juga diminta memperbanyak panti jompo untuk menampung yang tidak berkeluarga.

....

Perlakuan terhadap orang lanjut usia memang tidak mudah, akan tetapi tidak elok jika kita biarkan mereka begitu saja ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar