Historia magistra vitae (sejarah adalah guru kehidupan)
Rabu, 17 September 1997, di ruang jumpa pers di sisi kanan Istana Merdeka, hadir Wakil I Direktur Pengelola Dana Moneter Internasional (IMF) Stanley Fischer didampingi Gubernur Bank Indonesia J Soedradjad Djiwandono serta Menteri Sekretaris Negara Moerdiono dan Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad. Mereka baru bertemu dengan PResiden Soeharto di Istana Merdeka. Saat itu Indonesia mulai dilanda krisis ekonomi yang kemudian menjalar ke berbagai bidang kehidupan.
Saat itu Fischer memuji pemerintah Indonesia yang dinilai sangat positif dalam menentukan langkah dan kebijakan ekonomi saat menghadapi krisis di bidang moneter. "IMF sangat terkesan dengan kenyataan Indonesia mengambil langkah cepat dalam mengatur budget valuta asing dalam rangka menata kembali ekonominya. Pidato Menkeu Mar'ie Muhammad kemarin (Selasa) merupakan salah satu contoh yang bagus dari cara Indonesia mengambil langkah positif dalam mengatasi krisisnya".Menanggapi situasi di Indonesia, sekali lagi Fischer menjelaskan dengan mengambil contoh pidato Presiden tanggal 16 Agustus 1997 yang mejurut fischer merupakan penekanan kembali Indonesia akan melangkah lebih maju dalam memperkuat proses reformasi ekonominya.
Mensesneg Moerdiono saat itu menambahkan pertemuan Fischer dengan Soeharto terjadi dalam suasana sangat baik. "IMF sangat berpengalaman, punya informasi banyak terhadap gejolak-gejolak yang terjadi, yang tidak hanya di kawasan kita, tetapi juga di Eropa"
Sehari sebelumnya, ekonom dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Steve Radelet, di Universitas Indonesia, Depok, memuji kebijakan Pemerintah Indonesia menghadapi kemelut perekonomian saat itu.
Tiga hari kemudian, Presiden Soeharto meresmikan Hotel Mulia Senayan yang sangat megah untuk menampung sebagian atlet SEA Games XIX.
Delapan bulan kemudian, Jakarta dan sejumlah tempat di Indonesia porak-poranda dan terbakar api. Pemerintah saat itu tidak mampu hadir dan melindungi rakyatnya.
Selamat belajar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar