Senin, 30 September 2013

Analekta

Analekta, kebijakan yan tak lekang oleh waktu

Selama 2.500 tahun terakhir, ide-ide konfusius dinyatakan dalam karyanya, Analekta.  Buku ini merupakan satu dari 50 buku paling berpengaruh di dunia.  Penekanan konfusius pada keharusan berbuat kebajikan, disiplin ribadi di antara para panguasa; kebutuhan akan teladan dibandingkan sanksi hukum, dan hak-hak individu pada orang paling naas sekalipun, telah menjadikan Analekta amat radikal pada masanya dan sumur ilmu yang tak pernah habis ditimba pada abad-abad berikutnya.


Analekta (Lun yu dalam bahasa mandarin) disusun dalam bentuk percakapan antara Konfusius dan para muridnya.  Buku 20 bab ini mengulas hal-hal seperti pembelajaran, pemerintahan yang lurus, kemanusiaan, dan pentingnya ritual.  Visi Analekta adalah masyarakat yang saling mendukung, dengan hak dan tanggung jawab segenap masyarakat yang diakui.  Anda tidak boleh melarang petani yang sederhana untuk memberikan pendapatnya," ujar Konfusius.

Meski pemikiran Konfusius soal keajekan kadang dituduh sebagai penyebab lambatnya modernisasi, politik, dan teknologi di China, penekanannya pada hubungan antarkeluarga masih sangat berpengaruh hingga saat ini.  Bahkan, pada Januari 1988, ketika para pemenang Nobel di Paris membahas soal isu besar yang dihadapi dunia, salah satu kesimpulan mereka adalah: "Jika umat manusia ingin tetap bertahan, mereka harus kembali 25 abad ke belakang untuk menggali kebijakan Konfusius."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar