Perang Dunia I, akan kah terulang?
Perang ini mengubah wajah Eropa, pusat peradaban dunia di awal abad
ke-20. empat imperium utama yang sudah berusia ratusan tahun, yakni
Kekaisaran Rusia, Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, dan
Kesultanan ottoman, runtuh di akhir perang itu. Sebagai gantinya
negara-negara baru bermunculan di Eropa Timur.
...
Bagian II
....
Dalam banyak hal, Perang Dunia I-lah yang telah memicu perubahan
fundamental tatanan dunia, yang pada gilirannya membuahkan Perang Dunia
II, Perang Dingin, dan bisa dibilang hampir semua konflik dan ketegangan
geopolitik yang terjadi saat ini.
Kesepakatan rahasia antara diplomat Perancis, Francois Georges-Picot, dan mitranya dari Inggris, Sir Mark Sykes, di tengah perang itu mengubah wajah Timur Tengah. Mereka menggamba sendiri btatas-batas negara baru ynang akan "dibagi-bagi" di bawah Inggris dan Perancis di bekas wilayah kekuasaan Ottoman. Pembagian wilayah yang kemudian "menciptakan" Lebanon, Suriah, Irak, dan Suriah, itu dilakukan hanya dengan memikirkan kepentingan Inggris dan Perancis belaka. Secara terpisah, Inggris juga menandatangani Deklarasi Balfour pada November 1917, yang merupakan embrio berdirinya Israel.
Sykes-Picot sama sekali mengabaikan realitas sejarah, kultural, dan interaksi masyarakat di lapangan sehingga kelak justru menciptakan konflik dan ketegangan berkepanjangan, seperti yang terlihat dalam upaya pendirian Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) saat ini.
Perang Dunia I juga merupakan langkah awal Amerika Serikat menancapkan kukunya sebagai kekuatan global, perlahan-lahan menggeser dominasi. Kelak, kekuatan Amerika Serikat menjadi tak terbendung setelah Perang Dunia II.
Kita di Indonesia pun tak luput dari dampak perang dunia I. Sikap Belanda yang berusaha netral pada perang tersebut menyebabkan berbagai dampak yang dirasakan hingga Hindia Belanda. Itu turut berpengaruh pada munculnya pergerakan kebangsaan di Nusantara.
Menengok kembali pada perang 100 tahun silam itu makin relevan karena, situasi dunia dewasa ini secra menakutkan sebenarnya begitu serpa dengan situasi menjelang Perang Dunia I (NY Times, jumat 27 Juni 2014).
Ketegangan di Ukraina, krisis di Irak-Suriah, meningkatnya tensi di Laut Tiongkok Selatan dan Laut Tiongkok Timur sebenarnya telah menempatkan semua kekuatan utama dunia di tepi jurang perang besar.
Memang tak satu pun pengamat, diplomat, atau pejabat negara mana pun saat ini yag meyakini perang, apalagi Perang Dunia III, akan pecah. Semua orang yakin, tingkat interdependensi ekonomi antarnegara membuat tak seroang pun akan mengorbankan kemakmurannya dengan perang. Namun, di situlah letak persamaan paling menakutkan dengan situasi pra-Perang Dunia I. Tak seorang pun di awal abad ke-20 mengira akan terjadi perang besar di antara kekuatan-kekuatan utama global saat itu. semua orang merasa sudah nyaman (complacent) bahwa hubungan dagang dan ekonomi antara kekuatan-kekuatan itu akan mencegah siapa pun mengobarkan perang.
Kita kini juga dihadapkan pada ketidak-berdayaan PBB dalam menuntaskan beberapa konfli kpenting di dunia seperti Suriah, Israel, atau Korea Utara. Akankah PBB dengan semua kecanggihannya kini hanya mengulang kegagalan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang dibentuk setelah Perang Dunia I?
Itu membuat makin relevan bagi kita untuk menengok kembali 100 tahun ke belakang, sebagai upaya untuk memahami apa yang telah menyebabkan Perang Dunia I yang tak mampu dicegah kala itu, agar tragedi yang sama tak kan pernah terulang lagi ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar