Minggu, 29 Juni 2014

Bugis dan Sutra

Tafarajaingekka dampeng tafarajaingettoi dampeng .... demikian kalimat pembuka yang akan diucapkan oleh orang Bugis sambil menyorongkan undangan pernikahan yang diselipkan di atas wadah logam bulat yang separuhnya terbungkus kain.
Sang pengantar undangan mengenakan baju bodo berwarna kuning bergaris hijau dengan bawahan sarung tenun kuning bergaris horizontal dengan hiasan subbi belah ketupat dan daun semanggi.  Pasangannya, mengenakan jas tutup kuning yang dipasangkan dengan sarug coklat dan tumpal bentuk canggih serta bersongkok.

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Bugis, termasuk Wajo untuk menyerahkan undangan pernikahan dengan hormat.
Orang yang menyerahkan undangan berpakaian adat berupa sarung tenun dipadukan dengan baju bodo atau waju ponco bagi perempuan dan jas tutup bagi pria. 

Pada zaman dulu, sarung yang dipakai terbuat dari tenun sutra, begitu pun baju bodo-nya.
Sarung tenun sutra menjadi kebanggaan dan simbol prestise kalangan masyarakat Bugis.  Sermakin kaku sarung sutra, semakin disuka.  Gesekan kain sarug yang menimbulkan bunyi seakan bisikmerdu di telinga.  itu sebabnya, srung sutra tak pernah dicuci setelah dipakai.  Agar tetap kaku, sarung hanya diangin-anginkan dan diberi pemberat saat dijemur agar tidak kusut.  Warna sarung juga akan luntur dan seratnya bisa rusak jika dicuci secara biasa.    Sutra dan emas adalah dua simbol prestise di keluarga Bugis.  Dahulu, raja memberikan penghargaan dengan emas dan sutra.

Sarung tenun mulai berkembnang di wajo pada 1436, tak lama setelah berdirinya Kerajaan Wajo pada 1399.  Pada awalnya, tenun menggunakan benang katun dengan alat walida.  Motifnya polos, lalu berkembang menjadi garis vertkal (ballo tettong) dan horizontal melingkar (makkalu), lalu menjadi kotak-kotak, baik besar, menengah maupun kecil (ballo renni).  Sutra mulai dikenal setelah ada perdagangan dengan Tiongkok pada masa VOC.  Ada sekitar 250 corak tenun Bugis, baik klasik maupun perkembangan sebagai hasil interaksi antara tradisi, teknologi dan spiritualitas.  Setiap motif memiliki makna.

salah satu motif, yakni motif pucu yang bentuknya seperti pucuk rebung menyimbolkan pandangan kosmogoni orang bugis yang menganggap dunia ini berlapis tiga, yakni boting langiq, ale liwo dan buriq lliu.  Manusia berada pada ale liwo atau batang dunia yang merupakan perkawinan, boting langq (kerajaan langit) dengan uriq liu (kerajaan bawah laut).

Tokoh tenun sutra di wajo, menyatakan, banyak motif hasil ekspresi petenun tak mempunyai nama.  Penamaan bisa berasal dari cerita yang mengiringinya, misalnya ballo mappagiling yang muncul sejak 1950-an.  Dikisahkan, seorang istri ditinggal suami merantau bertahun-tahun tanpa kabar.  ia tetap setia danmelipur lara dengan terus menenun dalam kesedihan dan kesendirian.  Motif yang dibuatnya secara spontan ini merupakan curahan hati



Tidak ada komentar:

Posting Komentar