Asal Usul Hitler
Seperti Stalin, tak ada yang istimewa pada asal-usul Adolf Hitler (lahir 20 April 1889). Selama tiga dasawarsa pertama kehidupannya, Hitler tak pernah tertarik berkarier dalam politik dan secara naluriah adalah penyendiri yang bereksperimen di bidang seni. Ia bahkan tidak berkewarganegaraan Jerman, tapi seorang Austria dengan aksen selatan yang aneh pad ausia 20-an pergi ke Jerman, tempat ia terus bereksperimen di bidang karya seni. Karakter pribadinya tidak mencerminkan bakat pemimpin. Hitler sangat pemalu, tidak banyak bicara di depan publik, dan jarang menulis. Ia mengabdi sebagai sukarelawan dalam angkatan bersenjata jerman semasa Perang Dunia I dengan pangkat tertinggi kopral. Hitler bahkan dianggap sebagai minoritas dalam parit perlindungan di garis depan.
Pada akhir perang, Hitler tiba-tiba saja jadi bersimpati pada gelombang kebencian dan kegetiran yang melanda negara Jerman yang kalah perang. Ia memuntahkan kebencian terhadap "para kriminal November", orang-orang yang dituduh bertanggung jawaba atas kekalahan jerman. Seperti banyak orang lain, Hitler ingin merobek-robek Perjanjian Versailes, yang membebani negara angkatnya dengan kesalahan perang dunia I. tak sperti kelompok Marxis, Hitler tidak punya teori besar yang mendalilkan titik akhir "di luar batas" sejarah. Bagi Hitler, hanya sejarah yang ada, pergulatan terus-menerus di mana keberlangsungan dan keunggulan jerman hanya bisa dipastikan melalui penciptaan "komunitas bangsa" dengan ras yang murni, bersih dari Komunis, Yahudi, penjahat, orang dari kelas sosial berbeda, serta mereka yang digolongkan tidak memenuhi syarat rasial.
Kita tak tahu banyak tentang pendapat Hitler sebelum 1919. yang pasti, ia dibesarkan di Austria, ia punya pemahaman yang sangat berlebihan tentang semua yang bersifat jerman, tak suka pada pejabat pemerintah berdarah Austria-Hongaria, dan punya hasrat yang jelas-meski dinyatakan secara terselubung-untuk menjadikan bangsanya warga Jerman. Di ambang Perang Dunia I, Hitler berdomisili di Munich dan bersukacita karena yakin Jerman akhirnya akan memproklamirkan diri sebagai kekuatan dunia yang menurutnya sudah merupakan hak lahir negara itu. perang itu akhirnya nyaris mengakhiri aspirasi nasionalisnya. di titik itu, sang kpral yang sebelumnya menjalani kehidupan biasa-biasa saja kini punya kesadaran politik akan makna kekalahan dan aib, serta bergabung dengan mereka yang menimpakan kesalahan kepada orang Yahudi.
Tidaklah mengherankan bahwa Hitler akhirnya bergabung dengan kelompok nasionalis-melihat kelekatan emosionalnya yang sudah lama dengan jerman. namun, komitmen menggebunya pada "kelahiran kembali" bangsa itu dilandasi pandangan bahwa orang Yahudi bertanggung jaawab atas kekalahan Jerman. Hitler tak kesulitan bersikap rasialis, meskipun hal itu mungkin hanyalah pembenaran atas sikap anti-Semit-nya yang semakin keras. Karena dibesarkan di Austria, Hitler kemungkinan tak banyak berbeda dengan banyak rekan segenerasinya yang menyikapi sikap-sikap anti-Yahudi. namun, baru setelah Perang Dunia I ia menjadi fanatik pembenci orang Yahudi yang menjadi ciri gerakan Nazi.
Hitler menonjol di antara para pemberontak setelah perang bukan hanya karena keterampilan bicaranya, tapi juga terutama karena sifat radikal politiknya, sikap ya-atau-sama-sekali-tidak yang kemudian ia perlihatkan seumur hidup. Pada Septemberr 1919, Hitler sudah merencanakan "menyingkirkan semua" orang Yahudi dari Jerman. Sangat diragukan bahwa bahkan ia, saat itu, sudah bisa membayangkan perwujudan niatnya tersebut di Perang Dunia II. Namun, mereka yang berkumpul untuk mendengarkan pidatonya pada dasawarsa 1920-an bisa merasakan bahwa politik sayap kanan yang fanatik-dalam hal penegakan "hukum dan aturan", Komunis, dan terutama orang Yahudi akan menjadi inti kepemimpinan Hitler.
Fobia anti-Yahudi Hitler tak lama kemudian bercampur dengan fanatisme anti-Bolshevisme. Hitler mengikuti pola kelompok anti-Yhudi lain dalam membesar-besarkan jumlah orang Yahudi yang terlibat dalam Komunisme di Jerman dan Uni Soviet. Namun, ia membenci mereka bukan hanya karena mereka-konon-bersimpati pada Komunisme. Yang lebih penting, hitler menggambarkan mereka sebagai musuh alami jerman.
Pada 13 agustus 1920 di Munich, Hitler memberikan pidato yang merupakkan pernyataan propagandanya tentang sikap anti-yahudi. Ia mengajak pendengarnya membayagkan betapa tingginya tingkat budaya dan seni jerman jika bangsa itu bersatu Ketakutan terbesarnya dalah "ras" itu, yang dianggapnya "lebih rendah", kemungkinan besar bisa merusak udaya Jerman dan denganb egitu identitas nasionalnya juga. Menurutnya, orang Yahudi adalah "perusak budaya" sejak zaman dulu, di Mesir, Palestina, yunani, dan Roma kuno.
Dengan pandangan kaku tentang orang Yahudi sebagai musuh alami Jerman itulah Hitler menjadi musuh paling gigih dari Lenin dan Stalin serta apa yang diejeknya sebagai "Bolshevisme yahudi". Ia berjuang selama lebih dari satu dasawarsa untuk naik ke tampuk kekuasaan, dan sejak itu berupaya membentuk ualng Jerman dan kemudian Eropa berdasarkan ideologi yang sejak awal sudah dianut dan dipertahankannya sampai akhir. Hitler bertekad mengobarkan perang nyaris sejak hari pertama ia diangkat sebagai kanselir pada 30 Januari 1933, dan pada 1939ia berhasil. Pertentangan antara ideologi Nazi dan Komunis mencapai titik kritis pada Juni 1941 serta menjadi Vernichtungskrieg-atau perang pemusnahan kaum Yahudi dan Komunis yang sangat didambakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar