Senin, 23 Juni 2014

Beda LENIN-STALIN, dan HITLER (II)

Asal Usul LENIN

Pada Maret 1917, duni para tsar runtuh, dan untuk beberapa saat, di bawah pemerintahan sementara yang baru, Rusia menjjadi salah stu negara terbebas di dunia.  Saat itu, Lenin masih berada jauh dari Petrograd, ibu kotanya:  saat itu, Lenin tinggal di Swis.  Mendapatkan keberanian dari perkembangan yag terjadi, ia pun kembali ke tanah kelahirannya.  Ia bertekad menghancurkan sisa-sisa tatanan politik dan sosial lama di Rusia, bernafsu mematikan semua peluang bagi Rusia yang baru untuk menjadi negara demokrasi liberal.

Lenin, pria yang terlahir sebagai Vladimir Ilych Ulyanov pada 10 April 1870, "Gaya Lama", dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan.  Ia sejak dini menjadi aktivis revolusioner dan mungkin merupakan praktisi palig anatik dari Marxisme Rusia di periode prarevolusi.  Sebagai pendiri Komunisme Soviet, ia adalah pendukung utama didirikannya negara satu partai, kamp konsentrasi, dan teror massal.  Ia berkeras, hanya beberapa hari setelah Revolusi Oktober, bahwa hak hukum dan sipil harus dibatasi.  Beberapa minggu kemudian ia mengusulkan dibentuknya kesatuan polisi rahasia baru (Cheka).  Ia membentuk sifat tidak toleran rezim baru dan tak henti mengejarlingkaran musuh yang semakin luas.  Teror dan ekdiktatorannya bukan sekadar reaksi bagi situasi darurat pemerintahan,, karena Lenin sudah merangkul keduanya selama lebih dari satu dasawarsa sebelum Revolusi Rusia.  Contohnya, ketika rezim tsar mendapat tekanan pada 1905, Lenin tak puas dengan gagasan mereformasinya menjadi monarki konstitusional atau bahkan demokrasi liberal.

Lenin bertemu pertama kali dengan Stalin , dan Stalin sudah sepandangan dengan lenin, pada pertengahan Desember 1905, tapi tak sependapat dengan perubahantaktik Lenin untuk berpartisipasi dalam pemilihan yang dimungkinkan oleh reformasi bulan Oktober.  Meski begitu, Stalin belajar mengikuti petunjuk sang "pria hebat", karena keduanya sepakat bahwa segala cara dihalalkan untuk mencapai tujuan, dan bahwa tujuan akhir mereka adalah kediktatoran proletariat-dengan penekanan pada unsur kediktatoran.

Lenin sama sekali tak berempati ppada harapan dan aspirasi rakyat biasa, entah mereka petani penyewa atau anggota kelas pekerja industri.  Ia berpendapat kaum pekerja adalah satu-satunya "kelas revolusioner", tapi jika dibiarkan, mereka "hanya" akan menginginkan gaji lebih tinggi dan perbaikan sosial-dengan kata lain, tuntutan serikat buruh yang menurut Lenin mencerminkan keterbatasan visi mereka.  Penulis Rusia Maxim Gorky dengan tept merangkum sikap Lenin pada November 1917, di awal rezim yang baru, merangkumnya, ketika karakter Lenin belum sepenuhnya terbentuk.
"Kelas pekerja bagi Lenin bak bijih besi bagi pandai besi.   apakah mungkin dalam semua kondisi saat ini, membentuk negara sosialis dari bijih ini?  kelihatannya tidak mungkin; meski begitu-mengapa tidak mencobanya?  Apa risikonya bagi lenin jika percobaan ini gagal?"

Leninisme didasari pemikiran bahwa revolusioner profesional akan membentuk partai garda depan atau perintis dan memerintah atas nama proletariat.  Mereka takkan membuang-buang waktu melakukan "penipuan" demokrasi liberal, yang mereka anggap tak lebih dari pemerintahan borjuis yang dibenci.  Menyingkirkan monarki mutlak dan menggantinya dengan sistem konstitusional hanyalah awal dari revolusi yang lebih autentik.  semua itu takkan terjadi tanpa pertumpahan darah, dan bagi Lenin, perjuangan kelas berarti perang saudara.  Lenin yakin Komunisme harus dipaksakan dengan kekerasan.  Pengikutnya adalah elitis sejati yang yakin dengan superioritas mereka sendiri.  Mereka menugaskan diri untuk menciptakan dunia yang seluruhnya baru.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar