Bagian I
Pada dasawarsa 1930-an, pertarungan antara Komunisme dan Naziisme menjadi persaingan mematikan dalam memperebutkan dominasi dunia. Pertikaian itulah yang terutama memicu era paling kelam dalam bencana politik dan sosial mahadahsyat pada abad ke-20. Negara-negara demokratis Eropa bukanlah tandingan dua kekuatan baru yang haus kekuasaan itu. Hanya keterlibatan Amerika dalam Perang Dunia II-lah-meski mereka berpihak pada Uni Soviet- yang berhasil mengatasi keperkasaan Jerman. Akibatnya, Amerika Serikat kemudian disibukkan oleh Komunisme dalam Perang Dingin yang terjadi setelah PD II, yang berlangsung selama setengah abad.
Tulisan ini memberikan penuturan sosial-historis kediktatoran Soviet dan Nazi serta mencatat kesamaan dan perbedaan keduanya.
Rusia pada 1914 bisa dikatakan merupakan negara yang paling represif secara politis. Masyarakatnya masih agraris dan belum berkembang, dengan lebih dari 100 bahasa yang digunakan populasi multietnisnya. sebesar 79% dari mereka buta huruf menurut sensus tahun 1897.
Sebaliknya, Jerman adalah negara modern, berbudya tinggi, homogen secara etnis, dengan perekonomian yang maju. Jerman sudah lama mencapai tingkat melek huruf yang mendekati 100% dan sedang berkembang menuju demokrasi liberal. Warga negara yang baik di Jerman, seperti di sebagian besar Austria, membanggakan aturan hukum mereka. "Perdamaian sosial dan ketertiban" adalah pepatah Jerman yang kesohor, dan dalam hal itu, Jerman sangat berbeda dibanding masyareakat Rusia yang jauh lebih kasar serta lebih sulit dikendalikan.
Kerusuhan dan kekacauan di jalan-jalan Jerman setlah perang-yang kebanyakan dipicu oleh Nazi- membuat orang siap menerima Hitler, yang berjanji akan mengakhiri masa pergolakan itu.
Kontras lama dengan Rusia tidak lenyap, melainkan mewarnai kediktatoran Nazi (Jerman) serta Komunis (Rusia) yang kemudian muncul.
Stalin (Rusia) dan Hitler (jerman) dipandang sama, sebagai "politikus populis". Namun, pada perspektif lain disebutkan bahwa kedua diktator itu sangat berbeda.
Hitler adalah model seorang pemimpin karismatik, seseorang yang bisa langsung berkomunikasi dengan massa.
Stalin sama sekali tidak memiliki karisma itu, setidaknya sampai akhir perang dunia II. Stalin gila kerja, seorang administrator birokratis sejati. Dalam hal detail administratif, ia 100% berlawanan dengan Hitler, yang ingin orang lain membuat sebagian besar keputusan "atas namanya", sementara ia sendiri hanya membuat keputusan yang penting-mungkin hanya 5%.
alih-alih "populis", Stain dan seniornya Lenin, menyatakan diri sebagai pemimpin garda depan. Mereka tidak menarik simpati publik dan juga tidak berusaha mebentuk sikap masyarakat. Bagi mereka, legitimasi dan otoritas didapat bukan dari bangsa mereka sendiri, melainkan dari Mrxisme dan aturan sejarah-yang konon lebih mereka ketahui dibanding orang lain.
Hitler, di sisi lain, sangat yakin bahwa otoritas politik harus di dasari popularitas dan bahwa tak ada rezim yang bisa menjadi bangsa sejati jika tidak didukung oleh masyarakatnya.
Hitler memandang rendah kedua diktator Soviet itu (Lenin dan Stalin) dan juga teror yang digunakan pada bangsa mereka sendiri. Hitler melakukan yang sebaliknya, hitler berusaha memenangkan hati dan pikiran semua warga Jerman non-Yahudi dalam ikatan bersama yang dilandasi "pengasingan" orang Yahudi serta kelompok lain yang dianggap tidak memenuhi syarat rasial. Yang Hitler inginkan adalah kediktatoran dengan persetujuan pihak yang diinisiasi. Pemerintahan campuran Hitler bisa disebut kediktatoran konsensus. Ian Kershaw dalam bukunya mencatat bahwa popularitas dan otoritas Hitler "merupakan sarana utama untuk mengonsolidasi dan mengintegrasi masyarakat dalam konsensus besar-besaran bagi rezimnya".
Hitler melangkah dengan cukup hati-hati. sebagai contoh, ia mencoba mempersiapkan pendapat umum sebelum bertindak, dan ketika mendapat penolakan, ia sering mundur. Hal itu juga terjadi ketika ia berkampanya menentang gereja dan mendukung persekusi orang Yahudi di negara jerman.
Kecenderungan itu sangat kontras dengan Lenin dan Stalin, yang tidak pernah mundur saat menghadapi perlawanan serta sering langsung menyikapinya dengan teror yang kejam. Gereja ortodoks pun, yang sngat dicintai banyak tradisionalis Rusia, disapu habis. Komunis membakar banak rumah ibadat kuno dan menekan para rohaniwannya,
Sedangkan Hitler (Nazi) mundur ketika beberapa orang menentang keputusan kelompok radikal lokal untuk menyingkirkan salib dari sekolah.
Di Uni Soviet, pembersihan partai dan ritual kritik-diri serta pencambukan diri merupakan bagian integral praktitik komunis di bawah kepemimpinan Lenin dan Stalin.
Hal seperti itu tak terjadi di Jerman Nazi. Hitler beroperasi dengan memuji-muji semangat Jerman dan menyemangati warga yang baik ketika mereka juga mendukungnya. ia menujukan kekejamannya hanya kepada orang Yahudi, kepada lawan politik seperti kelompok Komunis, serta kelompok-kelompok minoritas seperti homoseksual dan Gipsi. Hitler juga sangat tidak suka memecat pejabat Partai yang korup sekalipun, seolah ia tak mau mengakui kesalahannya telah memercayai mereka. untuk menjaga agar semangat tetap tinggi selama perang dan juga agar orang Jerman tidak mempertanyakan otoritasnya, Hitler hanya meminta para jenderal mengundurkan diri atau mengambil cuti sakit ketika ia menganggap mereka bersalah,
Stalin, memerintahkan banyak pelanggar semacam itu ditembak mati.
Hitler, hanya kepada perwira tertinggi Nazi Erwin Rommel diizinkan minum racun pada Oktober 1944 karena dicurigai terlibat dalam upaya pembunuhan Hitler pada bulan Juli.
bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar