Minggu, 05 Mei 2013

Santri nasionalis dan nasionalis non-santri

Sebuah cerita yang bergulir dari membaca koran di pagi hari, lalu berdiskusi dengan salah seorang kabag pemberitaan terkenal ...  :D



... atau buang saja simbol-simbol agama itu, langsung saja berenang dalam lautan politik yang kotor dan busuk itu bersama pihak lain yang juga punya filosofi serupa."

-------------------------------------------------------------

Pernah terjadi perdebatan panjang pada kurun 1930-an tentang hubungan politik dan agama, antara elite santri nasionalis dan elite nasionalis non-santri.  Gaung perdebatan itu masih dirasakan sampai tahun 1950-an.  Isu Pokok yang diperdebatkan berpusat pada masalah apakah politik itu kotor atau tidak.

Non-santri bersikukuh, politik itu selamanya kotor sehingga agama yang suci jangan dibawa-bawa ke dalamnya.  Santri lalu membalik formulanya, justru karena politik itu kotor perlu dibersihkan dengan agama.

jadi, memang terdapat persamaan pandangan antara santri dan non-santri, politik itu kotor.  bedanya, bagi santri agar politik itu tidak kotor, politik jangan dipisahkan dari agama.  Non-santri menjawab, agama akan menjadi kotor jika bercampur-aduk dengan politik.
begitulah caranya elite bangsa tempo dulu memandang hubungan politik dan agama, masing-masing tetap bertahan pada pendiriannya.  Jika substansi perdebatan ini kita baca dengan menggunakan kaca mata hari ini, fenomena sangat menarik jelas terlihat di depan mata kita.

jika dulu tokoh santri sangat menjaga martabat dirinya agar tidak terkontaminasi oleh politik yang kotor, sebagian generasi santri sekarang justru dengan bangga berkubang dalam lumpur politik yang kotor itu.

kondisi semacam inilah  yang sangat memprihatinkan mereka yang masih menyimpan nilai-nilai luhur agama dan pancasila.  nilai-nilai ini sekarang di dunia politik kita telah dibuang ke tempat pembuangan atau pengasingan sejarah demi memburu uang dan kekuasaan yang tidak pernah merasa puas.

tujuan mulia politik untuk jesejahteraan rakyat telah dikorbankan sedemikian rupa untuk memuaskan nafsu pragmatisme para elit yang kini sedang berburu harta dan kekuasaan.  akibatnya, simbol-simbol agama yang sering digunakan untuk mencari pendukung dan pengikut menjadi hambar dan kecut..

dalam sejarah perpolitikan Indonesia, kita mengenal dua partai moralis, yakni masyumi dan partai katolik.  sekalipun berbeda agama, tokoh-tokoh kedua partai ini sangat terlihat ketat dalam mengawal moralitas anggotanya yang bergerak dalam politik.  mereka menjadikan agama sebagai ajaran moral yang wajib dipedomani dalam mengawal perilaku politik anggotanya.  sebab, tanpa moral, politik pasti merusak 9destruktif)

Kerusakan inilah yang kini sedang mengepung kehidupan bangsa ini, pelopornya tidak lain  adalah politisi yang tunamoral, tetapi hebatnya tidak kehilangan senyum saat memberi keterangan kepada wartawan.  alangkah hina dan kejinya tontonan serupa ini.

(Ahmad Syafii Maarif)

.... ah .. ya ndak gitu
coba baca kita al ahkam, ndak segitunya, bukan begitu penafsirannya

(risky handrianto)

ada perbedaan mendasar antara politik barat dan kita, tujuannya sama meraih kekuasaan, tetapi penggunaannya berbeda ...  ketika samuel huntington ... power tends to corrupt ... ya ... ditunggu saja kondisi lebih buruk dari saat ini

==============

begitulah, cerita pagi yang bergulir di kantor tercinta saya, saat berjumpa dengan risky handrianto sang kabag pemberitaan, saya cerita tentang artikel bagus tulisan syafii maarif, eee .. panjang panjang cerita dan bacakan artikelnya, jawabannya cuma pendek "ah, ya ndak gitu ... " 
hahahahaha .....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar