Minggu, 05 Mei 2013
Beda Al-Ghazali dan Niccolo Machiavelli (Essay Asep Salahuddin)
Ketika kawannya, Sultan Muhammad Ibnu Malik menjadi penguasa dinasti Saljuk, seorang ulama asketik, Imam Al-Ghazali, mengirimkan ucapan selamat dalam bentuk risalah berisi sejumlah petuah sekaligus harapan agar kekuasaannya yang telah ada di genggaman karib itu mendatangkan berkah dan menjadi saluran yangmewariskan faedah bagi semua.
Al-Ghazali merasa mumpung kekuasaan itu baru saja berada di pangkuan, kecendekiaannya merasa terpanggil untuk turun gunung, lekas mengingatkan bahaya kekuasaan apabila tidak dikontrol dengan nasihat.
Petuah itu ditulis dalam sebuah kitab terkenal dan sampai kepada kita hari ini: At-Tibrul Masbuk fi Nashihatil Muluk “senarai Mutiara Nasihat untuk Para Penguasa”. Ada baiknya buku ini menjadi bahan renungan bagi politikus. Mengingat kita akan segera menjelang tahun pemilihan umum di 2014. Toh, pada akhirnya karakter kekuasaan itu dari dulu sampai hari ini tidak jauh berbeda. Kekuasaan selalu cenderung korup kecuali sejak awal pemegang kekuasaan itu dengan ikhlas bersedia menjaga kebeningan hati dan menyimak setiap nasihat kebaikan dari mana pun datangnya.
Nasihat Al-Ghazali laiknya zaman skolastik, tentu berpusat pada pusaran nilai-nilai religiusitas dan pedoman etik moralitas yang diyakininya dan saat itu semakin lamat terdengar, bahkan nyaris absen dari ruang publik. Nasihat yang dijangkarkan pada pentingnya kesadaran metafisik sebagai haluan utama menata kekuasaan yang sudah semakin kehilangan nalar.
Nasihat yang idisampaikan betul-betul tanpa pamrih, nyaris di belakangnya tak ada motif peraih kuasa seperti yang dilakukan Sengkuni dalam dunia pewayangan. Sejak awal, seperti dapat juga dibaca dalam ktab Al-Ihya, dia sudah meneguhkan simpulan bahwa kerusakan penguasa itu sebermula ketika bersekongkol dengan ulama dan partai berjubahkan dakwah yang kerjanya membajak ayat-ayat Tuhan, memperjualbelikan fatwa dan kharismanya.
Ketika terjadi persekongkolan jahat antara kuasda dan jaringan simbolis keagamaan yang ditafsirkan secara salah kaprah, mesin kekuasaan akan mewajahkan raut mengerikan..
Karena itu, menjadi sangat dapat dipahami bahwa hal pertama yang diterakan Al-Ghazali dalam risalahnya itu adalah keniscayan menancapkan rasaning daif dlam diri penguasa. Bahwa kursi yang ada di tangan kawannya harus dijadikan sarana untuk berkhidmat kepada yang maha kuasa sebagai pemili absolut seluruh kekkuasaan dengan cara menjadi pelayan makhluk Tuhan.
Bahwa kekuasaan yang kita genggam hanyalah fragmen-fragmen kecil amanat dari kuasa Tuhan, dari bayangan kodrat dan iradat-NYA. Karena amanat, maka impertif moral suslannya adalah bagaimana kekuasaan itu kemudian dikelola dengan saksama. Amanat menjadi sebuah penggilan dari kedalaman iman karena hanya pemimpin amanah yang dapat menjadi garansi terdistribusikannya rasa aman kepada seluruh warganya tanpa pandang bulu.
Penguasa harus bisa merangkeng watak tiranik, hubbul istila’: bisa meredam keinginan primitif hegemonik, hubbul isti’la’: nafsu untuk selalu dirprioritaskan dalam hal ihwal, takhsissh; dan menghindari kecendrungan menganggap diri yang paling benar, hubbul istibdad.
Dalam pasal selanjuthya Al-Ghazali mengaitkan kekuasaan dengan kesadaran-kesadaran eskatologis. Bahwa kekuasaan itu bukanlah cek kosong, tetai seluruhnya akan dimintai pertanggungjawaban. Justru pertanggungjawaban yang hakiki dan tidak mungkin dimanipulasi adalah ketika tubuh terpisah dari raga, saat menggetarkan berhadap-hadapan dengan pemilik sah daulat kekuasaan hakiki.
Terakhir, Al-Ghazali menyutikkan “politik profetis” sebagai landasan kekuasaan agar kausa ini menemukan kebenaran. Bahwa “jalan kenabian” merupakan teladan yang tidak hanya berkaitan dengan aspek ritual, tetapi juga tarekat sosial yang dapat mengantarkan kehidupan menemukan harkatnya yang luhur, ruang sosial tidak kemudian kehilangan adab.
Nasihat Machiavelli
Berbeda dengan Al-Ghazali adalah Niccolo Machiavelli. Ia seorang politikus ulung yang telah malang melintang di panggung politik praktis. Pernah bertemu dengan Raja Perancis Louis XII, Paus Julius II, Kaisar Romawi Suci Maximilian (1459-1516) dari Spanyol, hingga para penguasa Turki. Adalah Cesare Borgia (1476-1507), putra Paus Alexander VI, yang paling dikagumi Machiavelli
Halnya, Al-Ghazali, dia juga memberikan nasihat kepada penguasa Firenze, Lorenzo de’Medici, yang sedang berkuasa sat itu dalam surat panjang yang kemudian menjadi kitab terkenal, Il Principe “Sang Penguasa”.
Nasihat Machiavelli bereda dengan Al-Ghazali. Justru sebaliknya, Niccolo Machiavelli mensihati sag pengusa agar menjauhi moral seandainya kekasaannya itu ingi abadi. Karena itu, ia kerap dituduh sebagai biang penyebar asas tujuan menghalalkan cara, the end justifies the means.
Berangkat dari pengalamannya sebagai praktisi politik, Machiavelli menyimpukan bahwa agar kekuasaan tersebut abadi, haluan moral harus disingkirkan. Bagi dia, pengusa tidak ada urusan degan aspirasi rakya sehingga ditakuti rakyat jauhlebih penting daripda sekedar dicintai, apalagi kecintann itu hany askedar keterpesonaan pda politik pencitraan yang serba artifisial.
Di samping itu, menurut Machiavelli, untuk melangsungkan pemerintahan yang efektif, sang penguasa harus menciptakan sebanyak mungkin “laska berani mati” yang memiliki kesediaan membela kekuasaannya, cakap mendirikan “ormas-ormas” yang dapat pasang badan untuk menghalau setiap serangan lawan, baik fisik maupun opini.
Atas nama mempertahankan kekuaaan, seluruh muslihat dibenarkan; yang dikedepankan bukan logika, melainkan reorika; bukan kecakapan menyusun argumen yang koheren dan sitematis, melainkan kecerdikan mencuci otak warga agar kemudian mendapatkan keptuhan mutlak. Kekuasan ang “benar” harus melampaui hukum, bukan bersujud pada pasal-pasal undang-undang.. kata seorang arif, “Tidak ada yang lebih mulia kecuali ketika janji itu menjadi fakta. Dan tidak ada yang lebih hina kecuali janji-janji yang telah disampaikan terus dipercakapkan warga karena tidak pernah direalisasikan.
Asep salahudin
Esais dan dekan di IAILM
Pesantren suryalaya,
Tasikmalaya, jawa barat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar