Kemunculan Braga tidak lepas dari kebutuhan warga baru Bandung, orang Eropa, pada awal abad ke-19. Di antaranya kemudahan mendapatkan kebutuhan sehari-hari dan sekadar melepas kangen pada kebiasaan yang dilakukan di tempat asalnya.
Celah bisnis itu dimanfaatkan dengan baik oleh CA Hellerman. Ia melihat Braga sebagai tempat strategis. MEski dianggap daerah angker dan menyeramkan, jalan ini kerap digunakan sebagai jalur transportasi utama saat itu.
Kawasan ini menjadi lebih populer setelah di dekatnya dibangun jalan pos pada era Gubernur Jenderal Daendels. Tahun 1894, Hellerman menbuka toko pertama di Braga yang menjual senjata api, sepeeda, dan kereta kuda. Selanjutnya berturut-turut dibangun bangunan lain.
Dalam buku Braga: Jantung Parijs Van Java, karya penulis Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha disebutkan, salah satu yang terkenal adalah toko Mode au Bon Marche (1913). Toko ini selalu terdepan dalam model terbaru dari pusat mode di Paris, Perancis.
Ada juga peninggalan rumah makan terkenal, Maison Bogerijen (1923). Rumah makan ini sekrang bernama Braga Permai, adalah satu-satunya restoran di Bandung yang diizinkan menyajikan hidangan khas Koningin Emma Tart dan Wilhelmina Tar oleh Kerajaan Belanda.
Sebelumnya, dibangun Societet Concordia (1894). Para Preanger Planters menggunakan tempat ini untuk erpesta setiap akhir pekan. Pertunjukan musik atau tonil menjadi sajian utama.
Dengan kemewahan itu, para Gubernur Jenderal Hindia Belanda serta pemilik perkebunan teh di priangan (Preanger Planters) menjadi pelanggan Braga.
Tak pelak, julukan De Meest Europesche Winkelstraat van Indie atau jalan di Hindia yang paling mirip dengan eropa disematkan pada Braga.
Toko mobil Fuchs en Rens (1919) adlah distributor mobil, seperti Renault, Packard, hingga plymouth dan de soto. Kaum pemodal Preanger Planters konon harus berebut bila ingin mendapatkan mobil disana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar