Menurut Scott Merrilees dalam buku Batavia in Nineteenth Century Photographs, untuk mengatasi persoalan air bersih, menjelang pertengahan abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda mulai membangun sumur-sumur artesis di berbagai tempat di Batavia. Sumur pertama digali di dalam Benteng Pangeran Frederik (Prins Frederik Citadel), di tempat masjid istiqlal berdiri sekarang, dan selesai pada 1843. Entah kenapa, sumur-sumur berikutnya baru digali hampir 30 tahun kemudian. Pada tahun 1870-an ada enam sumur yang selesai digali, termasuk satu di sisi utara Koningsplein, Medan Merdeka Utara, kurang lebih di seberang istana gubernur jenderal yang kini jadi Istana Presiden.
Pembangunan sumur air tanah dalam ini terus dilakukan hingga akhir 1920-an. Waktu itu di seluruh Batavia sudah ada 50-an sumur artesis, yang kedalamannya bervariasi mulai dari 100 meter sampai hampir 400 meter. Di samping itu, juga dibangun 14 stasiun mesin pompa untuk meningkatkan tekanan air di dalam pipa-pipa pendistribusian.
Dalam sebuah buku tentang Batavia terbitan 1891 disebutkan, pemerintah telah membangun jaringan pipa pendistribusian sepanjang 90 kilometer. Melalui pipa-pipa itu air sumur dialirkan sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat kota, termasuk ke daerah Meester Cornelis (jatineara). Segenap warga kota, baik pribumi maupun Eropa, boleh memanfaatkan air berkualitas baik ini dengan gratis. sejak adanya sumur artesis ini, kondisi kebersihan dan kesehatan di Batavia meningkat secara signifikan.
Namun, banyak warga yang tak menyukai rasa air sumur dalam ini. warnanya keruh sehingga kalau dipakai untuk menyeduh teh, warna air teh jadi hitam. Dengan demikian, air Ciliwung tetap merupakan air minum paling favorit di Batavia.
Meski jumlahnya sudah mencapai 50, sumur-sumur artesis tak mampu menghasilkan air dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penduduk Batavia. Pada Oktober 1918 pemerintah memutuskan membangun jaringan pipa baru untuk mengalirkan air bersih ke Batavia dari mata air di Ciomas, di kaki Gunung Salak, Bogor. Pembangunan infrastruktur ini selesai pada akhir 1922, yang diikuti dengan penonaktifan sumur-sumur artesis dan pembongkaran bangunan-bangunan pelindungnya.
Meski berusaha terus meningkatkan pelayanannya, pemerintah kolonial Belanda tak pernah sanggup memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Batavia yang jumlahnya terus meningkat. Sampai akhir zaman penjajahan, sebagian warga masih tetap mengandalkan kebutuhan air bersih mereka dari sumber-sumber lain, seperti sungai, sumur dangkal, atau dari pedagang air keliling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar