
Buku penulis terkenal Louis Fischer "The Story of Indoneisa", yang diterbitkan di London tahun 1959, diceritakan bahwa buku ini di larang. M Roem (tokoh perjanjian Roem Royen) mencatat, mungkin gara-gara sebuah kalimat pertama.
Kalimat tersebut berbunyi: "Tjara jang paling mudah untuk melukiskan tentang diri Soekarno ialah dengan menamakannja seorang jang maha-pentjinta. Ia mentjintai negerinja, ia mentjintai rakjatnja, ia mentjintai wanita, ia mentjintai seni dan melebihi dari pada segala-galanja - ia tjinta kepada dirinja sendiri".
M Roem berpendapat bahwa Bung Karno tiak suka dinamakan egois besar, mengingat bukankah ia jang berulang kali mengadjarkan kepada rakyatnya, bahwa "my loyalty for my party ends, when my loyalty for my country begins?" (kesetiaan saya bagi partai berakhir, dimana kesetiaan untuk negara mulai).
Yang telah berjasa berhasil menggerakkan Soekarno untuk menceritakan riwayat hidupnya adalah Howard P Jones jang pernah menjadi duta besar Amerika di Indonesia selama kurang lebih 7 tahun. Beluiau berdua kemudian menjadi sahabat karib. Namun, mungkin Howard Jones tidak menyadari (menurut M Roem), bahwa yang paling menentukan dalam hubungan itu, ialah pujian yang ia berikan pada Soekarno, bahwa Soekarno itu adalah suatu perrpaduan antara Franklin Delano Roosevelt dan Clark Gable - meskipun Clarkk Gable berkumis, sedang Soekarno tidak, dan kumis itu dalam ini faktor penting sekali, rasanya tidak menggaggu persamaan itu..
Keturunan Soekarno tidak tanggung-tanggung! ibunya, Ijaju (tulis M Roem), seorang Bali dari kasta Brahmana keturunan bangsawan. Radja Singaradja terakhir adalah paman Ibunya. ayahnua, Raden Sukemi Sosrodihardjo, keturunan Sultan Kediri. Baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah, para nenek moyang Soekarno adalah pejuang kemerdekaan melawan penjajah Belanda. Salah seorang nenek moyangnya, seorang wanita, berjuang di samping pahlawan besar Pangeran Diponegoro. Dengan menaiki kuda pahlawan, Puteri itu mendampingi Pangeran Diponegoro di dalam peperangan tahun 1825 -1830 sampai menemui ajalnya.
Tetapi hidup sSoekarno di mas kanak kanak sangat menyedihkan, hingga M Roem menyebutkan kalau Cindy Adams mengeluarkan air mata pada waktu mendengarkan cerita beiau. Soekarno menyebutkan: "Aku di lahirkan di tenah kemiskinan. Aku tidak mempunjai sepatu. Aku mandi tidak dalam air jang keluar dari kran. Aku tidak mengenal sendok dan garpu. Ketiadaan jang keterlaluan demikian ini dapat menjebabkan hati ketjil di dalam mendjadi sedih".
Mengenai hidup dalam kemiskinan ini, cerita Soekarno sangat lengkap, (demikian ungkap M Roem), baikpun waktu ia masih sekolah rendah di Modjokerto, maupun waktu ia sudah sekolah HBS di Surabaja. Ia berikan juga jumlah gaji ayahnya dalam mata uang gulden pada waktu itu. Ia tidak lupa juga memeberikan perbandingannya dengan dolar, bagi pengetahuan Cindy Adams dan pembaca di luar negeri. Begitu lengkapnya cerita itu, sehingga orang yang tahu keadaan di Indonesia terutama di Pulau Djawa pada waktu itu, dengan angka-angka Soekarno sendiri melihat, bahwa keluarga Raden Sukemi Sosrodihardjo tidak miskin sama sekali.
M Roem melanjutkan, jika dilihat dalam rangka "Gobang Rapport", dalam mana orang Indonesia rata-rta hidup dari dua setengah sen setiap hari, maka tiap anggota dari keluarga Raden Sukemi Sosrodihardjo yang terdiri dari empat orang, hidup dari 250 gobang sebulan atau lebih dari 8 gobang sehari.
Sehingga (catatan M Roem), tidak masuk akal seperti yang ia ceritakan: "Kami sangat melarat dsehingga hampir tidak dapat makan satu kali dalam sehari". Dengan membeli padi ditumbuk sendiri, maka Ibunya dapat menghemat saru sen, dan ibunya berkata: "dan dengan uang satu sen kita dapat membeli sajuran nak".
Rupanya, Soekarno ingin memberi kesan atau membuat efek, pada para pembaca di luar negeri, terutama di Amerika, betapa miskinnya ia waktu kecil. cerita seorang iskin, yang menjadi Presiden memang sangat menarik, terutama di Amerika.
M Roem memuji buku Soekarno ini memang menarik dan lucu jika kita tidak hubungkan bagian satu dengan yang lain. umpamanya, pada waktu diceritakan ia berjalan-jalan naik sepeda dengan pacar pertamanya, seorang gadis Belanda bernama Rika Meelhuiysen, dan di suatu tikungan jalan ia menabrak ayahnya sendiri. Ia takut bukan karena telah menabrak ayahnya, tetapi ia takut karena ia bercinta-cintaaan dengan seorang gadis Belanda.
Waktu ia hendak minta maaf kepada ayahnya dan berjanji untuk tidak berbuat semacam itu lagi, ayahnya berkata: "itu baik sekali. Pendeknja, hanja dengan djalan itu engkau dapat memperbaiki bahasa Belandamu". Pada waktu itu Soekarno sedang bersiap siap untuk menemp0uh ujian masuk sekolah rendah Belanda (Europeesch Lagere School) dan bahasa Belanda merupakan mata peladjaran terpenting..
Yang tidak cocok dalam hal ini (ungkap M Roem),bahwa anak jang dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan sekonyong-konyong mempunyai sepeda. Pada waktu itu yan gmemiliki sepeda hanyalah anak-anak Indonesia yang orang tuanya berada. dan hanya orang tua yang berada dapat menyekolahkan anaknya di Sekolah Rendah untuk anak-anak Belanda. Tentang itu Soekarno pernah menanyakan kepada ayahnya: "Apakah tjuma-tjuma? Djawab Ajahnja: "Mana bisa, Kita mesti bajar uang sekolah".
Soekarno memang anak cerdas. Ia lulus ujian H.B.S dan pindahlah ia ke Surabaya, dimana sekolah HBs itu berada. Ia mondok di rumah keluarga Tjokroaminoto, yang akan mempunyai pengaruh besar dalam kehidupannya. Ibu Tjokro seorang ibu yang manis, yang ia hormati dan sayangi. Anak-anak Pak Tjokro ia pandang sebagai saudaranya sendiri.
.................... (BERSAMBUNG)
Wah kayaknya blog kamu isinya sangat kaya ya. Baru beberapa hari dah ada 13 postingan. Eh gimana kabar temanmu dulu, siapa namanya yg bekacamata yang sering rental ama kamu dulu.
BalasHapus