Selasa, 12 Mei 2009

Air Bersih



Pada Harian Kompas (Mulyawan Karim) menulis:


Air bersih sebetulnya persoalan klasik Jakarta. Krisis air minum sudah sering terjadi sejak awal pembangunan kota Batavia oleh Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen pada 1619. Maklum, Batavia adalah kota pesisir yang dibangun di daerah muara sungai (Ciliwung), di mana air tawar merupakan komoditas yang tak banyak tersedia di alam.

Batavia, pada abad ke-18 sempat dipuji para pelancong sebagai Koningin van het Oosten, Ratu dari Timur. Hal ini karena Batavgia merupakan kota bergaya Eropa yagn indah di belahan dunia Timur. Namun, pada akhir abad yang sama, gara-gara banyak orang Belanda yang mati, Batavia mendapat julukan baru: Het Graf der Hollander, Kuburan Orang Belanda!

Sampai awal abad ke-20, warga Batavia masih dihantui aneka peyakit yang mematikan: kolera, tipus, dan difteri, yang antara lain disebabkan buruknya kualitas air minum. Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck (1708-17013) meninggal dunia setelah menderita disentri, penyakit tropis lain yang juga sering menyerang warga Batavia.

Buruknya kondisi kesehatan juga disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat soal pentingnya menjaga pola hidup sehat. pada abad ke-18 banyak warga Batavia belum tahu bahwa kuman di dalam air akan mati jika air mentah dimasak sampai mendidih. Sampai abad ke-19 warga umumnya tak peduli dan meminum air Ciliwung mentah-mentah.

Pada 1753, setelahmendapat saran dari seorang dokter, Bubernur Jenderal Jacob Mossel menganjurkan warga agar memindahkan air dari satu tempayan ke tempayan lain agar mengendap sehingga tampak bersih dan dapat diminum tanpa dimasak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar