Selasa, 12 Mei 2009

Sumur Artesis



Menurt Scott Merrilees dalam buku Batavia in Nineteenth Century Photographs, untuk mengatasi persoalan air bersih, menjelang pertengahan abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda mulai emmbangun sumur-sumur artesis di berbagai tempat di Batavia.; Sumur pertama digali di dalam Benteng Pangeran Frederik (Prins Frederik Citadel), di tempat Masjid Istiqlal berdiri sekaran, dan selesai pada 1843. entah kenapa, sumur-sumur berikutnya baru digali hampir 30 tahun kemudian. pada tahun 1870-an ada enam sumur yang selesai digali, termasuk satu di sisi utara Koningsplein, Medan Merdeka Utara, kurang lebih di seberang istana Gubernur Jenderal yang kini jadi Istana Presiden.

Pembangunan sumur air tanah dalam ini terus dilakukan hingga kahir 1920-an. waktu itu di seluruh Batavia sudah ada 50-an sumur artesios, yang kedalamannya bervariasi mulai dari 100 meter sampai hampir 400 meter. Di samping itu juga di bangun 14 stasiun mesin pompa untuk meningkatkan tekanan air di dalam pipa-pipa pendistribusian.

Dalam sebuah buku tentang Batavia terbitan 1891 disebutkan, pemerintah telah membangun jaringan pipa pendistribusian sepanjang 90 kilometer. Melalui pipa-pipa itu air sumur dialirkan sampai ke daerah-daerah yang jauh dari pusat kota, termasuk ke daerah Meester Cornelis (Jatinegara). Segenap warga kota, baik pribumi maupun Eropa, boleh memanfaatkan air berkualitas baik ini dengan gratis. sejak adanya sumur artesis ini, kondisi kebersihan dan kesehatan di Batavia meningkat secara signifikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar