James Brooke, petualang dari Inggris yang singgah ke sebuah acara resepsi di Istana Bone pada abad ke-19 menuliskan pengalamannya, "Saya disuguhi banyak jenis makanan ringan dan kue yang sangat enak, kopi yang rasanya senikmat kopi di Istanbul atau Paris, dan teh yang tidak kalah denagn teh di Kanton"
Makanan dan tradisi menghidangkan kue manis di acara makan besar merupakan salah satu ciri orang-orang Austronesia. rasa manis terkait dengan konsep kuasa hegemoni. Sehingga orang Bugis dari dulu selalu diwanti-wanti untuk membuat kue manis. Kalau tidak manis dianggap pelit. Ras manis kue juga bermakna harapan dan rasa syukur.
Kue-kue pesta sarat makna yang dibuat untuk acara-acara penting di Bugis-Makassar hampir semuanya dibuat dari beras. Dalam konteks budaya Bugis-Makassar beras menduduki posisi sangat penting dan sangat dimuliakan karena dianggap titisan dewa. Hal itu disebutkan dalam mitologi I La Galigo.
Syahdan, anak perempuan Batara Guru bernama We' Oddang Riu1 meninggal tidak lama setelah dilahirkan. Beberapa hari kemudian ketika batara Guru berziarah ke makam itu, ia melihat di atas makam tumbuh berbagai jenis rumput aneh yang sebenarnya padi. Belakangan, Datu Patotoqe memberi tahu bahwa We' Oddang Riuq telah diserahkan kepada manusia dalam bentuk Sangiang Serriq demi kelangsungan hidup manusia.. Meski itu hanya mitologi, kisah Sangiang Serriq berakar kuat dalam ubdaya Buigs-Makassar. Dari bahan makanan yang mulia inilah, kue-kue ynag dianggap penting lahir.
Faktor lingkungan juga mememengaruhi corak makanan suatu komunitas masyaakat. Sejak berabad-abad lalu, Sulawesi Selatan surplus beras. Beras yang melimpah sebagian diekspor ke luar Sulawesi Selatan.
Thomas Staverson dalam Letter from Makassar, 1618 mencatat, dalam satu bulan orang Inggris membeli 450 ton beras dari Maros (Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, 2011). Hingga kini, Sulawesi Selatan masih surplus beras lebih dari 2 juta ton. Sebanyak 500.000 ton beras diantaranya merupakan beras kelas premium yang diekspor ke sejumlah negara, seperti Korea Selatan, Jpang, Filipina, Singapura dan Timor Leste..
Karena beras melimpah, tidak heran jika makanan berbahan beras juga melimpah. Hal itu sejalan dengan dalil Penny Van Esterik yang meneybutkan makanan dan budaya makan suatu komunitas ditentukan oleh bahan makanan yang melimpah di alam.
Beberapa lontara menyebutkan, akar dari semua kue Bugis-Makassar adalah sokko atau songkolo yang semula dibuat untuk persembahan kepada dunia atas, tenah, dan bawah. Jadi, Sokko memiliki dimensi riual. Tidak mengherankan jika penguasa Bone, Arung Palakka, pernah bernazar akan membuat sokko setinggi gunung jika berhasil mengalahkan kerajaan Gowa.
Selanjutnya, sokko melahirkan turunan kue berbagan beras atau ketan lainnya seperti pipang, baje' dan sikaporo. kita bisa menemukan kue-kue berbahan mulia tersebut di momen mulia, seperti pesta perkawinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar