Rabu, 16 Oktober 2013

Douglas McArthur

Jenderal di era perang pasifik ini kekuasaannya pernah singgah di Indonesia .... simak kisahnya ...

Jenderal Douglas MacArthur,  Jenderal di Era Perang Pasifik penulis puisi pada tahun 1952, yang naskah aslinya berseliweran di jagad blog dan memang sangat menyentuh.  Puisi tersebut berjudul A Father Prayer dengan naskah aselinya tertulis:
  
Build me a son, O Lord, who will be strong enough to know when he is weak, and brave enough to face himself when he is afraid; one who will be proud and unbending in honest defeat, and humble and gentle in victory. 

Build me a son whose wishbone will not be where his backbone should be; a son who will know Thee ?and that to know himself is the foundation stone of knowledge.

Lead him I pray, not in the path of ease and comfort, but under the stress and spur of difficulties and challenge. Here let him learn to stand up in the storm; here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son whose heart will be clear, whose goal will be high; a son who will master himself before he seeks to master other men; one who will learn to laugh, yet never forget how to weep; one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious, yet never take himself too seriously. Give him humility, so that he may always remember the simplicity of true greatness, the open mind of true wisdom, the meekness of true strength. 

Then, I, his father, will dare to whisper, have not lived in vain.

....

Douglas MacArthur, jenderal asal As yang menguasai Morotai dalam Perang Dunia II.  Penguasaan atas morotai dianggap penting segbagai persiapan merebut kembali filipina dari tangan Jepang. 

Anda juga dapat bersafari menikmati peninggalan sekutu pimpinan Douglas MacArthur, Jenderal asal AS yang menguasai Morotai dalam Perang Dunia II.  Penguasaan atas Morotai dianggap penting sebagai persiapan merebut kembali Filipina dari tangan Jepang.

Terdapat sebuah museum mini yang menyimpan memori kekejaman perang.  Pemiliknya adalah Muhlis Eso.  selama puluhan tahun, ia mengumpulkan benda milik tentara sekutu dan Jepang, dua pihak yang terlibat dalam Perang Dunia II.

Museum mini tersebut berada di sebelah rumah muhlis, di tengah kampung di Daruba, Morotai, dengan akses masuk jalan tanah yang becek saat hujan.  Di ruangan itu ada sejumlah rantang makanan dan botol minuman tentara Amerika serikat (AS), juga koin, piring, sendok, tanda pangkat militer, sarung tangan, obat antinyamuk, minyak wangi, sampai sepeda tentara sekutu.

Menempel di dinding bambu yang lapuk, ada foto hitam putih pesawat tempur, tank dan wajah kuyu orang orang berseragam tentara.  Satu rak kayu menampung kalung-kalung dengan bandul logam warna perak (dogtag) dan helm tentara sekutu.

Di lantai ruangan itu berserak berbagia jenis  senjata yang sedah berkarat.  Ada mortar, granat, pisto, ta senapan mesin, bekas selongsong roket dan peluru sejumlah kaliber.  benda-benda itu buatan negara sekutu, yakni As, Perancis, dan Australia.

Ironisnya, meski apa yang dia lakukan itu bermanfaat bagi kepentinga nasional, relatif tak ada penghargaan bagi Muhlis.  adahal, benda-benda bersejarah itu berpotensi dikembangkan menjadi wasata sejarah, juga pendidikan.

Setidaknya, sebgain keluarga tentara yang terlibat dalam Perang Dunia II di Morotai suka berjunjung ke tempat ini.  Muhlis berharap ada pihak yang mau membantunya membangun museum yang layak dan bisa dimanfaatkan banyak orang.  

Ia juga ikut menjadga dua tank amfibi milik sekutu, satu diantaranya ada di kebun kelapa milik warga. Ia tak tergoda menjual barang-barangnya itu meski sebgian warga menjual berbagai macam benda peninggalan tesebut untuk dijadikan perhiasan besi putih. 

meski berjasa, Muhlis merasa diabaikan.  "dalam acara Sail Morotai beerapa waktu lalu, saya tidak boleh ke tempat acara Presiden SBY, Padahal, benda-beda bersejrah yang diperlihatkan kepada Presiden itu milik saya,"  ceritanya. 

Meski kecewa, Muhlis tak berkecil hati.  Tekadnya justru semakin bulat, suatu saat ia bisa membangun museum yang lebih baik.  Muhis juga yakin masih banyak orang yang peduli pada pelestarian benda bersejarah.  ia tak terlalu eberharap bantuan dari pemerintah.  

"Cepat atau lambat, saya akan membangun museum yang layak dengan dukungan bagai pihak yang mendambakan kelestarian sejarah Morotai," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar