Sebuah pepatah Latin menyatakan, non vestimentum virun ornat, sed vir vestimentum, bukan pakaian yang membuat seseorang itu memiliki keutamaan, melainkan watak orang yang membuatnya pantas. Pepatah itu kerap memungkasi diskusi fashon, soal busana. Apalagi, pendapat konservatif memandang pakaian sebagai kulit sosial dan kebudayaan. pakaian juga dinilai sebagai ekspresi dari identitas seseorang. namun juga ada perkara pantas atau tidak terkait sehelai pakaian yang melekat di tubuh seseorang.
Baju batik saat memimpin rapat, jujru saja lebih terasa pantas .. misalnya.
Bukan pelanggararan apalagi kejahatan jika sesekali kita mengambil risiko berpakaian "berbeda dengan yang lain", tetapi bagaimana dengan kepantasan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar