
You Are What You Eat
Menyimak maraknya kemunculan penyakit pada usia yang semakin muda saat ini, saatnya-lah kita merenung kembali dari mana asal penyakit itu. Ilmu kedokteran dengan sejarah panjang, mulai dari avicenna atau ibnu sina hingga kedokteran tiongkok yang dimulai sejak dinasti (kemajuan paling pesat), sama-sama menyimpulkan bahwa asal semua penyakit adalah makanan.
Mengkaji islamologi, Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Makanan dibedakan dalam tataran haram dan halal dimakan (baik dari jenis, maupun cara mendapatkannya: Wajib ’Ain, Wajib, Sunnah, Makruh dan haram). Tata cara makan juga diatur dalam Islam. Puasa juga diberlakukan mulai dari yang wajib hingga sunnah. Begitu detilnya hingga wajarlah jika kita dapat memetik hikmah dari padanya yaitu: ”hati-hati memilih makanan untuk perut anda”
Menelusuri peradaban panjang Tiongkok, tabib Sun Ssu-Mo (tabib paling terkenal dalam sejarah Dinasti Tang dan bisa dikatakan paling terkenal seanjang sejarah China) menyatakan bahwa langkah pertma penyembuhan penyakit harus dicari di dalam makanan. Hanya ketika makanan tak mampu menyembuhkan penyakit, baru dokter akan menulis resep obat. Sun ssu-mo hidup tahun 590-692, merupakan puncak dari semua bagian tradisional penyembuhan dan pencapaian panjang umur, dimana cara pendekatan yang paling disukai tabib besar ini dalam menyembuhkan penyakit adalah melalui terapi nutrisi.
Beberapa penyakit (disadur dari Kompas) yang telah bergeser menimpa usia produktif:
Diabetes Mellitus
Diabetes melitus menjadi ancaman serius bagi masyarakat. menurut badan kesehatan dunia atau WHO, angka kejadian diabetes di indonesia menempati urutan keempat tertinggi di dunia, yaitu 8,4 juta jiwa pada tahun 2000. penyakit ini banyak menyerang pada masa usia muda atau masa produktif.
Menurut federasi dabetes internasional, diabetes merupakan penyebab kematian urutan ketujuh di dunia. tiap tahun ada 3,2 juta kematian terkait diabetes. pada tahun 2003, WHO menyebutkan, jumlah penderita diabetes melitus 194 juta jiwa dan diperkirakan meningkat jadi 333 juta jiwa pada 2025.
Survei kesehatan rumah tangga memperlihatkan, prevalensi atau angka kejadian diabetes melitus meningkat dari tahun 2001 sebesar 7,5 persen menjadi 10,4 persen pada tahun 2004. adapun hasil survei badan pusat statistik tahun 2003 menunjukkan, prevalensi diabetes 14,7 persen di perkotaan dan 7,2 persen di pedesaan.
Jika tidak diatasi, gejala diabetes akan menjadi diabetes tipe dua. untuk itu kendalikan dengan kontrol gula darah, mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan kaya serat, tidak merokok, olah raga teratur, mengendalikan berat badan dan sebagian pasien perlu mengonsumsi obat atau disuntik insulin.
Untuk mencegah komplikasi, faktor resiko diabetes melitus arus dikendalikan. peningkatan prevalensi diabetes seiring peningkatan faktor resiko yaitu obesitas atau kegemukan, kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi serat, tinggi lemak, merokok, hiperkolesterol dan kadar gula darah tinggi. seiring pergeseran gaya hidup, kini kian banyak anak anak terserang diabetes melitus.
Gagal Ginjal
Catatan Unit Hemodialisis Rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta Bonaventura Sidharta menyatakan, saat ini penyakit ginjal kronis banyak menyerang pasien berusia 20-40 tahun.
Secara normal, penurunan fungsi ginjal baru terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. Penurunan fungsi ginjal karena penuaan itu terus berlanjut ingga fungsi ginjal anya tersisa 50 persen pada usia lebih dari 70 tahun.
Penyakit ginjal kronis saat ini lebih banyak disebabkan gaya hidup tidak sehat, dulu lebih karena faktor genetis dan usia.
Poa makan sehat merupakan kunci untuk mencegah gagal ginjal. Cara paling aman saat ini adalah masak sendiri makanan segar. Mengonsumsi bahan kimia seperti pewarna, pengawet dan penyedap rasa yang disajikan dalam makanan meningkatkan risiko gagal ginjal karena bahan-bahan kimia tersebut cenderung mengendap dalam tubuh dan merusak fungsi ginjal.
Penyakit Kardiovaskular
Dokter spesialis Gizi Klinik RS Medistra Jakarta, Cindiawaty Pudjadi mengingatkan bahwa seiring dengan kemajuan zaman, berbagai macam penyakit terutama yang terkait dengan kardiovaskular seperti penyakit jantung, stroke dan deabetes melitus. Hal ini terkait dengan pola atau gaya hidup yang dijalani seseorang.
Untuk mencegah penyakit kardiovaskular, disarankan agar mengubah gaya hidup yaitu dengan tidur cukup dan pola makan mengurangi asupan kolesterol, rajin berolahraga secara rutin, tidak merkok serta terus beraktivitas
So, You Are What You Eat
Sumber:
Ignas Bethan, buku: Feng Shui Makanan
Kompas, Senin 17 November 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar