Minggu, 18 Maret 2012

Supersemar dan Perang Dingin

Oleh: Dasman Djamaluddin


Faktor penting munculnya Supersemar tidak dapat
dilepaskan dari terjadinya "Perang Dingin" antara Amerika Serikat
dengan Uni Soviet. Dimulai dengan konsep pembendungan komunisme melalui Doktrin
Truman (Truman Doctrin) yang diumumkan pada tahun 1947 sebagai reaksi Amerika
serikat terhadap ekspansi komunisme Uni Soviet setelah Perang Dunia II di Eropa
Tengah dan Eropa Timur, dan yang kelihatan akan menjalar ke wilayah Laut
Tengah, termasuk Turki dan Yunani (Lihat : Lie Tek Tjeng, Percaturan Politik Di
Kawasan Asia Pasifik Dilihat dari Jakarta (Jakarta: PT.Karya Unipress, 1983),
hal.37)

Konsep Doktrin Truman disusul oleh Marshall Plan yang bertujuan membantu
rehabilitasi Negara-negara Eropa yang telah hancur sebagai akibat Perang Dunia
II. Kemudian disusul dengan pembentukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)
yang merupakan persekutuan militer raksasa Barat untuk membendung komunisme
mulai dari Samudera Atlantik sampai ke Laut Tengah. sasaran utamanya adalah Uni
Soviet.

Pada
tanggal 1 Oktober 1949 negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) berdiri sebagai
akibat kemenangan kaum komunis terhadap Koumintang. Tugas Amerika Serikat dan
sekutunya dalam hal membendung komunisme bertambah berat. Untuk membendung
komunisme dari RRT ini, Amerika Serikat dan sekutunya menganggap perlu
membentuk Pakta Pertahanan di Timur. Pada tahun 1954 dibentuklah SEATO (Southeast
Asia Treaty Organization), sebuah kekuatan pertahanan militer di Asia Tenggara
beranggotakan Amerika Serikat, Inggeris, Perancis, Australia dan Selandia Baru
serta negara-negara Asia: Filipina, Thailand dan Pakistan. Dalam hal ini,
Indonesia menolak pembentukan pakta militer tersebut dan sejak saat ini
hubungan Indonesia-Amerika Serikat mendingin, meskipun tidak bermusuhan. Pada
saat bersamaan pertentangan dua kekuatan antara Barat dan Timur semakin
memuncak, hal tersebut terlihat dari pecahnya Perang Korea (1950-1953),
Pemisahan Berlin dengan tembok (Agustus 1961), Krisis Kuba (1961-1962).

Di
dalam situasi Dunia yang tidak menentu ini, Indonesia lalu memprakarsai
Konferensi Asia Afrika pada tanggal 18 April 1955 di Bandung dan pada akhirnya
menjadi landasan buat negara-negara yang tidak memihak ke Barat atau ke Timur,
mendirikan sebuah gerakan bernama: Gerakan Non-Blok di Beograd tahun 1961. Pada
saat bersamaan, bulan Mei 1955, Uni Soviet dan sekutunya membentuk pula sebuah
pertahanan militer bernama Pakta Warsawa.

Perkembangan di luar negeri berpengaruh besar terhadap perkembangan di
dalam negeri Indonesia, begitu pula sebaliknya. Munculnya PKI, setelah Hatta
sebagai Wakil Presiden RI mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden No.X (huruf eks,
bukan angka 10 hitungan Romawi, tetapi abjad ke-24) dan ditindaklanjuti dengan
Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 menjadi perhatian Amerika Serikat
dan sekutunya. Apalagi secara tak terduga. di dalam Pemilihan Umum pertama di
Indonesia pada tanggal 29 September 1955, yang hasilnya baru diumumkan tanggal
1 Maret 1956, PKI berhasil menduduki posisi ke-empat dalam jumlah pengumpulan
suara untuk Parlemen/DPR (16,3 persen), setelah PNI (22,1 persen), Masyumi
(20,9 persen) dan NU (18,4 persen).

Oleh karena itu, adalah hal wajar apabila Amerika Serikat dan sekutunya
sejak awal mengamati perkembangan di Indonesia. Kegigihan Amerika Serikat
membendung komunisme di Asia Tenggara dengan menggelorakan bahkan memperluas
Perang Vietnam sampai ke Laos dan Kamboja, yang ditentang keras oleh Indonesia,
menjadi salah satu bukti ada keterkaitan pihak Amerika Serikat dengan Indonesia
di era "Perang Dingin" tersebut. Apalagi setelah Indonesia membentuk
poros Jakarta-Phnom Penh- Hanoi-Beijing-Pyongyang yang sudah dianggap oleh
Amerika Serikat bahwa Indonesia semakin masuk ke kubu Komunisme yang justru
adalah musuh utama negara adidaya itu. Tetapi bagaimana pun juga kita kembali
ke konsep semula. Sebagai seorang ilmuwan yang berpikir untuk bangsanya, perlu
adanya sebuah kejujuran dibalik peristiwa apa pun yang melatar belakanginya.
Konsep seorang ilmuwan sangat jelas, yaitu berkeinginan melihat sejarah sebuah
bangsa tidak dimanipulasi oleh kepentingan-kepentingan sesaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar