GARUDA INDONESIA yang dulu bernama N.V.GARUDA INDONESIAN AIRWAYS didirikan
dengan akte notaris Raden Kadiman di Jakarta dengan no: 137 tgl 31 Maret 1950.Lembaran Negara RI no: 136 tahun 1950. “Saya ada buktinya,” ujar
Wal Suparmo, SH,MBA. Pria mantan orang Garuda di bidang hukum ini
memaparkan sejarah dengan gamblang.
Warga Kebon Jeruk ini telah mengirim surat pembaca ke beberapa media
nasional, namun rupanya berita IPO Garuda lebih seru. Wal Suparmo
menjelaskan, dalam Garuda Indonesia, disebutkan bahwa Garuda Indonesia
didirikan pada tgl 26 Januari 1949. Ini mengenyampingkan hasil
penelitian sejarah Peneliti Senior dari LIPI yaitu Bpk Asvi Warman
Adam.
Untuk diketahui, bahwa tanggal 26 Januari 1949 adalah pernyataan
sefihak dari oknum Angkatan Udara RI. Pernyataan itu dilakukan waktu
Orde Baru sebagai bentuk militerisme dengan surat hibah “tak bernomer”
dan “tak bercap kantor resmi" tanggal 26 Januari 1979. Tapi, dilakukan
secara pribadi oleh KSAU. Hal yang sebenarnnya masih kontroversi juga di jajaran Angkatan Udara.
“Garuda Indonesia Airways didirikan sebagai Indonesia Airways oleh
Angkatan Udara di Birma,” tutur pria yang tak ingin sejarah diputar
balikan. Untuk itu, ia geram jika ada pemalsuan sejarah. Sementara Ari
Sapari, Direktur Operasional Garuda menyebutkan, bahwa saham penawaran
ke masyarakat Aceh merupakan salah wujud PT Garuda menghargai sejarah
terkait cikal bakal lahirnya penerbangan Indonesia.
Sementara itu, Capt M Syafei, mantan pilot Garuda mengatakan, mungkin hanya Garuda Indonesian Airways, satu-satunya maskapai penerbangan
yang mempunyai dua hari ulang tahun. Yang pertama tanggal 26 Januari
yang diperingati Direksi Garuda dan yang ke dua tanggal 28 Desember yang diperingati Pilot (tergabung dalam Asosiasi Pilot Garuda/APG) .
Masing-masing fihak mengambil peristiwa masa lalu yang pernah terjadi
dalam sejarah kita.
Kubu tanggal 26 Januari mengambil tanggal itu berdasarkan fakta
sejarah bahwa pada tanggal 26 Januari 1949 terjadi peristiwa penerbangan komersial pertama dengan pesawat Dakota C-47 RI-001 Seulawah, pesawat
sumbangan rakyat Aceh, dari Calcutta ke Rangoon.
Tanggal itu dipakai Direksi Garuda sebagai HUT Garuda sejak 1979,
yaitu waktu Bpk Wiweko Supono (salah seorang pendiri Indonesian Airways) menjabat sebagai Dirut Garuda. Hal itu dilakukan karena adanya Surat
Hibah dari TNI AU terbitan 26 Januari 1979 kepada Dirut Garuda, yang
memerintahkan agar Garuda memakai 26 Januari sebagai HUT-nya.
Kubu tanggal 28 Desember mengambil momen saat pesawat DC-3 Dakota
regrestrasi PK-DPD dengan logo Garuda Indonesian Airways melakukan
penerbangan perdana dari Kemayoran – Maguwo – Kemayoran.
Kejadian tanggal 28 Desember 1949 ini adalah peristiwa bersejarah di
mana Presiden Soekarno dan sebagian Kabinet memasuki Ibu Kota Negara
Jakarta dengan pesawat tersebut. Penerbangan ini adalah penerbangan
perdana Garuda Indonesian Airways NV. yang baru didirikan.
Yang jelas ke dua peristiwa tersebut terjadi saat bangsa Indonesia
dalam perjuangan dan belum mempunyai pilot yang berkwalifikasi captain
pesawat Dakota. Pesawat Indonesian Airways RI-001 Seulawah dipiloti
Capt. J.H Maupin seorang Amerika dan PK-DPD pesawat Garuda Indonesian
Airways dipiloti Capt. M. S. Rab seorang Belanda.
“Dengan mengingat masa lalu, sebagai mantan pilot Garuda, perseteruan ini kami rasakan sangat menyedihkan,” ujar pria yang kini menjadi
dosen STMT Trisakti. Pria ini mengatakan, lebih tragis lagi karena
justru pelaku/pendiri Indonesian Airways sendiri yaitu Bapak Sutardjo
Sigit (alm) pernah menulis surat ke berbagai media untuk meluruskan
sejarah ini.
Surat itu menyatakan, sangat tidak setuju kalau tanggal 26 Januari
dijadikan hari jadi Garuda. Dikatakan bahwa Indonesian Airways yang
dioperasikan AURI di Birma tidak ada hubungan sama sekali dengan Garuda
Indonesia Airways yang berada di tanah air.
Kalau toh ada hanya secara kebetulan ke dua perusahaan tersebut
pernah dipimpin orang yang sama yaitu Bp. Wiweko Supono, Indonesian
Airways /1949-1950 di Birma dan Garuda Indonesian Airways /1968-1984 di
Indonesia. Pendapat ini di dukung pilot senior Garuda yang mengalami
peristiwa tersebut.
Bapak Sutardjo Sigit juga pernah menulis surat kepada saya (30
/4/2001) berisi uneg-uneg, termasuk kekecewaan beliau kepada AURI yang
menghibahkan tanggal 26 Januari tersebut kepada Garuda, “…bagaimana bisa hari ulang tahun kok dihibahkan, seperti barang saja”, demikian
penggalan surat tesebut.
Memang hari jadi yang dipakai Garuda saat ini berdasar surat hibah
dari AURI ke Garuda tertanggal 26 Januari 1979 saat Wiweko Supono
menjadi Dirut PT Garuda, yang sesungguhnya tidak benar.
Ternyata surat yang dikirim Pak Sutardjo Sigit kepada saya itu bukan
surat “protes” yang pertama. Tanggal 26 Januari 1979 beliau juga pernah
mengirim surat pembaca ke Sinar Harapan Minggu (11/1/1979) menangggapi artikel “30 Tahun GIA Dalam Perangko”.
Kali ini tahun 2009, kembali direksi Garuda akan memperingati ulang
tahunnya ke 60 pada tanggal 26 Januari secara besar besaran. Setidaknya
rencana ini sudah terlihat pada kalender Garuda-2009 yang dalam
keterangannya menyebutkan ulang tahun tanggal 26 Januari (pas hari libur Imlek).
Hal lain. Garuda menaruh iklan satu halaman penuh di harian Kompas
(12/1/2009). Sebagai mantan karyawan Garuda yang tergabung dalam APG
dalam hati nurani mengakui bahwa ulang tahun Garuda adalah tanggal 28
Desember. Saat dimana pesawat dengan logo Garuda Indonesian Airways /
PK-DPD berbendera merah putih dalam penerbangan perdana dipakai Presiden RI untuk kembali ke ibu kota di Jakarta . Penerbangan yang sangat
bersejarah ini tentunya berdasarkan keputusan dan izin pimpinan Negara
R.I.S. pada waktu itu.
Sebagai tetenger tanggal 28 Desember yang dianggap sakral ini
diperingati APG untuk mewisuda para pilot yang mengakhiri masa baktinya
selama berbakti di Garuda. Dalam acara yang disebut Wisuda Purnabhakti
Dirgantara dilakukan juga penyematan lencana Adipradana Lancana
Purnabhakti Dirgantara dan Kartika Adipradana Dirgantara bagi pilot
Garuda yang berprestasi.
Lencana prestasi dambaan pilot Garuda ini diberikan oleh Assosiasi
Pilot dan bukan direksi Garuda. Seolah-olah saat ini pilot dianggap
sebagai orang luar perusahaan bukan lagi sebagai mitra kerja.
“Jangan salah, saya pribadi sangat menghargai jasa-jasa para perwira
AURI di Birma yang “mendirikan” Indonesian Airways, dan malah
mengusulkan agar 26 Januari 1949 dijadikan sebagai Hari Penerbangan
Niaga Nasional kita," tutur Capt M Syafei, mantan pilot Garuda ini
panjang lebar. Tetapi, ia melanjutkan, hal itu bukan HUT Garuda!!!
Pesawat Dakota Seulawah/RI-001 tidak pernah masuk armada Garuda dan
bukan asal-muasal Garuda yang kita cintai. Garuda tidak berasal dari
pesawat Dakota Seulawah/RI-001.”
Dalam penjelasannya disebutkan, pesawat ini langsung kembali dari
Birma ke pangkuan AURI dan menjadi bagian dari DAUM (Dinas Angkutan
Udara Militer).
Yang jelas, di pasar modal, ada aturan yang sangat keras terhadap
pihak yang memberikan informasi atau keterangan menyesatkan, misleading
information . Hukumannya, pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda
paling banyak Rp 15 miliar. “Tahukah Anda?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar