Kamis, 25 April 2013

Rumah Hantu


Pagi ini persis di depan kantor, saya melihat antrian mengular dari sebuah SPBU.  Tidak tanggung-tanggung, para pengantre berasal dari latar belakang berbasis "hajat hidup orang banyak".  Ada mobil pengangkut LPG (elpiji), dump truck, kendaraan pribadi (yang mungkin saja salah satunya harus periksa ke dokter, USG, dan kemungkinan lainnya), lalu kendaraan pengangkut material, dan sederet cerita yang lainnya lagi.

Kemana perginya solar? kenapa secara kebetulan berbarengan dengan rame-rame berkilahnya para petinggi.  dimulai dari Galaila Karen Agustiawan yang menyatakan "Bukan kesalahan, pertumbuhannya itu harus dicocokkan. Kan kemarin itu penentuan berapa-berapanya dengan DPR. kalau kita sudah tahu pertumbuhannya berapa,"

lalu Jero Wacik yang dengan entengnya (jika dibandingkan dengan kisah para pengantre) berkilah bahwa saat ini pemerintah sedang menghitung prediksi konsumsi BBM hingga akhir tahun. Terlebih, kuota subsidi BBM selalu mengalami over kuota.

Juga tak ketinggalan "Saya memanggil Menteri ESDM dan semua untuk mengatasi masalah solar," kata Hatta di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (23/4)
Menurut Hatta, kelangkaan solar menjadi penyebab terhambatnya sektor logistik yang dapat menyebabkan gangguan perekonomian.

ya iya lah pak ...
berapa trilyun yang hilang begitu saja
contoh kecilnya, salah satu dari petak sawah saya (yang dapetnya sewa pula), sampai kini mangkrak nggak di bajak.  mangkraknya pun nggak tanggung-tanggung, sudah hampir satu bulan.  maka panennya juga akan mundur satu bulan, maka uang sewa saya yang hilang potensinya dalam satu bulan ... apa njenengan yang mau ganti?
lalu para pembajak sawah yang akhirnya harus nganggur, bajak sawah yang akhirnya ditinggal disawah sekian lama, kepanasan kehujanan, bahkan dicuri orang dengan cara dipreteli, apa sampeyan juga yang mau ganti??
for god's sake, noleh aja nggak apalagi peduli ...

negara ini seperti rumah kosong, atau rumah berhantu ...
aparaturnya berlebihan, birokrasinya mbulet, badan dan departemennya gemuk ... tapi nggak efektif dan efisien, bahkan cenderung nggandol dan larinya loyo...
sudah berapa kali kita digantung oleh ketidakpastian dan ketidaktahuan akan mencari jawaban kemana...
setelah tragedi bawang putih mencapai Rp. 100.000,00 (konon, kartel bawang putih untung satu trilyun rupiah!!!), lalu harga bawang merah melonjak tajam, lalu harga kedelai, lalu harga daging sapi, lalu soal unas yang amburadul jadwalnya banyak yang molor ... lalu, apalagi pak yang mau diobrak abrik dari jiwa kita yang sudah rapuh ini?

kita dibayangi oleh hantu, dan hantu itu tak bermuka ... atau hantu muka rata
hantu yang tak punya muka, tak bernadi, tapi eksistensinya menyeramkan.  hantu yang entah kapan akan menyergap, tapi kita sadar bahwa ia ada....

Hantu itu sulit diberantas, karena ia merasa rumahnya memang disitu
dikasih jampi jampi hilang sekejab, lalu kembali meneror lagi
diberi sesajen malah bikin rumah jadi tambah singup
dibiarkan saja malah bikin kita yang merinding disko...

saya tidak peduli dengan alasan-alasan mulut manis bergincu atau badan wangi berdasi para petinggi negeri ini.  kalau mau dinaikkan ya silahkan saja.  toh, mereka punya kekuasaan yang dilindungi undang-undang, tapi mbok ya jangan menggadaikan nasib dan hajat hidup orang banyak seperti ini. 
kalau mau menyelesaikan masalah mbok ya secara wholistic, secara menyeluruh, dimulai dari dasarnya, lalu pondasi, lalu membangun disertai pilar yang kokoh, bukan dengan kebijakan tambal sulam seperti ini.

kebijakan tambal sulam yang membuat tambah runyam sistem yang sudah berjalan, ujung-ujungnya ternyata harga mau dinaikkan, kebijakan penghematan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar melalui skema dua harga.  (Premium) 45 persen konsumsi pelat hitam, solar 90 persen angkutan umum, 10 persen pelat hitam,"  lalu
Saat ini sudah beredar rumor mengenai strategi Kementerian ESDM dalam mengurangi subsidi BBM. Pertamina menjadi ujung tombak kebijakan tersebut. Setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik BUMN ini kemungkinan akan menjual dua jenis premium. BBM khusus mobil, dan satu lagi untuk kendaraan umum dan sepeda motor.
Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo sebelumnya telah mengisyaratkan rentang kenaikan harga khusus kendaraan roda empat. Meski rumusan kebijakannya belum final, dia menyebut harga jual khusus mobil pribadi bisa di rentang Rp 4.500 alias tetap, sampai Rp 9.000 atau mengikuti harga keekonomian.

kemudian Pemerintah menyatakan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terganjal proses politik. Hal ini dimaklumi sebagai konsekuensi negara demokrasi.
Pemerintah melihat rencana kenaikan harga BBM adalah langkah yang paling realistis merespon kondisi terkini, seperti tingginya harga minyak dunia. Efisiensi anggaran dengan mengurangi subsidi dinilai sebagai jawaban atas kondisi perekonomian dunia yang makin tidak menentu.

what the f*ck are they thinkin'?
para bedebah yang melumat hati dan menggadaikan jiwa-jiwa orang banyak
may your soul burn in hell
ghetto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar