Oleh: Yudi LatifDisadur dari Kompas, sebagai sebuah catatan menarik untuk disimpan
Katanya, demokrasi kita berada di jalan benar menuju
pencerahan Namun, mengapa jalan pencer han ni dipandu oleh kegelapan? Kemana saja kita menghadap, yang berjaya di
banyak tempat adalah kedunguan. Ketika
kebenaran ditentukan oleh jumlah; dan
ketika jumlah terbesar adalah ketidakhirauan dan ketidakberdayaan, kebeneran
itu mudha dimenangkan oelh kejahatan terorganisasi yang beradidaya. Kekbalan keburukan menguasai sendi-sendi
kehidupan.
Ruang publik kita sekarang ini disesaki sampah perdebatan
pepesan kosong, kerapatan parlemen
dirayakan dengan kesenyaan gagasan, progrm-program pemerintah disibukkan lh
involusi kelambanan dan kemubadziran.
Elite negeri berlomba mengkhianati negara dan sesamanya. Kdudukan dan kecerdikan bersekongkol
mepersembahkan kekayaan negeri bagi sebesar-besarnya kemakmuran asing. Rasa saling percaya lenyap karena sumpah dan
keimanan disalahgunakan; hukum dan
institusi lumpuh tak mampu meredam perluasan korupsi. Ketamakan dan hasrat meraih kehormata rendahmeerajalela; kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan.
Di zaman kalabendu, yang penuh prahara, pertikaian,
kedunguan, serta kehancuran tata nilai dan keteladanan sittuasi “anomali”
(a-nomos, ketidakteraturan) dianggap sebagai “normal” (norm, keteraturan). Apartur negara saling serang memperebutkan
“lahan jarahan”. Penegak hukum berjamaan
melanggar hukum. Komite etik dipimpin
oleh orang degan riwayat tuna-etik.
Agama, dimanipulasi untuk tujuan korupsi politik. Kesantunan gerak tutur menjadi topeng kebusukan
susila.
Republik berjalan tanpa tuntunan kepanditaan,
pancran kesadaran agung para nakhkoda republik untuk membawa bangsa keluar dari
kegelapan.. sutasoma berkata, pemimpin tercerahkan tidak bisa dinilai dari
penampilan citra lahiriahnya. “pancaran
pengetahuan sui dan kebijaksanaan itu sendirilah yang menjadi tanda apakah
seseorang itu tercerahkan atau tidak (tanpa memandang dia raja atau pandita
dalam wujud lahirnya)”.
Banyak orang berpenampilan pandita untuk menual ayat
dengan harga yang murah; membenarkan
kejahatan politik dengan rekayasa statistika; mendidik orang untuk tujuan
kesesatan dan kebencian. Merajalelanya
pandita palus membawa bencana dan kemarau keteladanan. Sutaoma berkata, “Benar dikatakan bahwa murid
haruslah mematuh gurunya seperti mematui orang tuanya sendiri. Namun, j9ka guru bertindak jahat, maka akan
ada kekeringan, hujan turun salah musim, panen-panen gagal, kesepuluh pendjuru
mata angin diliputi ketakutan, kejahatan terjadi di mana-mana, dan wabah
penyakit berlangsung tanpa akhir.”
Pemimpin
salah asuhan
Banyak orang berambisi memimpin negeri tanpa
memahami dan mencintai negerinya.
Bagaimana bisa berempati terhadap penderitaan rakyat di keragaman
pelosok tanah air jika calon pemimpin nasional tidak pernah mengenali danmenjelajahi
nusantara. Bagaimana bisa menghayati
edeologi nasional jika calon pemimpin bans tidak merasakan pahit getir sejarah
perjuangan bangsa. Banyak pemimpin salah
asuhan: makan, minum dan bernapas dari
kesugihan negeri ini, tetapi dengan mentalitas asing yang tega mengkhianati dan
menjrah ibu pertiwi-nya sendiri.
Benar juga kata John Lie, pahlawan nasional
keturunan tionghoa, orang pribumi adalah orang-orang yang Pancasilais,
saptamargais, yang jelas-jelas membela kepentingan ngeara dan bangsa. Sementara non-pribumi adalah mereka yang suka
korupsi dan merugikan kepentingan nasional..
“mereka itu sama juga menusuk bangsa kita dari belakang. Maka patutlah mereka digolongkan orang
non-pribumi”.
Banyak orang merasa pantas jadi pemimpin nasional tanpa
keterujian rekam jejak dan kejernihan visi.
Semua nilai dan kepantasan disusutkan pada nilai uang dan
popularitas. Twaran visi diremehkan
ketika tawaran “gizi” diutamakan.
Partai-partai politik membentangkan karpet merah kepada orang
berduit. Ketika orang berduit bisa
mendiktekan kemauannya kepada partai politik atau bisa di pucuk pimpinan
organisasi, paada saat itu pula partai politik sebagai institusi kolektif yang
memperjuangkan aspirasi kolektif roboh.
Banyak orang yang menjanjikan perbaikanbagi negeri,
tetapi justru dengan menempuh cara-cara yang tidak baik. Padahal, untuk tiba
pada kebenaran, orang harus sudah berada di jalan yang benar. Bagaimana bisa berhasil menjalankan operai
demokrasi jika kepemimpinan dalam partainya sendiri dijalankan dengan cra-cara
tirani. Bagaimana bisa bertanggung jawab
memimpin republik ini jika memimpin partai saja tak taat anggaran
dasar/anggaran rumah tangga atau tega merobohkan partai sendiri ketika
kepentingan tidak lagi terpenuhi.
Bagaimana bisa menawarkan pemerinahan yang bersih jika kepemimpinan
partai dalam genggaman tangan pengusaha yang kotor. Bagaimana bisa memerangi politik ang jika
jalan partai alternatif untuk memenangkan kontestasi pemilihanpun di tempuh dengan
menawarkan uang.
Jalan buntu demokrasi?
Bagaimana kita bisa percaya, demokrasi kita berada
di jalan yang bnar? Setelah 14 tahun
reformasi digulirkan, jalan sejarah kita justru menjelang kebuntuan state
manque dalam nubuat Clifford Gheertz, yakni sebuah negara yang tak kuncung
menemukan bentuk politik yang cocok baghi watak rakyatnya, tersandung dari
percobaan institusinal yang satu ke yang lain.
Jalan buntu ini terjadi karena kemiskinan imajinasikita. Reformasi sosial acap kali direduksi sekadar
reformasi prosedural, dan pilihan-pilihan prosedur itu pun sering kali diambil
secara serampangan dari model luar tanpa usaha kontekstualisasi ke dalam sistem
sosial-budaya kita. Padahal,
jantungmasalah kita ada pada sistem pemaknaan-sebagai inti budaya. Apapun prosedur yang kita ambil, jika sistem pemaknaan mengalami kerusakan, tidak
akan menghasilkan perubahan substantif.
Kerusakan sitem makna sebagai sistem budaya kita
terlihat dai bahasa yang dominan di ruang publik, bahasa politik dan bahasa
ekonomi. Bahasa politik dan ekonomi kita
hanya mengenal satu ertanyaan, “siapa yang menang?” dan “apa untungnya?” ruang publik kita jarang mengenal pertanyaan
budaya yang mempertanyakan “apa yang benar?”
Singkat kata, kita perlu meruwat republik dengan
revolusi budaya, revolusi mental dalam cara kita memaknai kehidupan
publik. Soekarno berkata, “suatu negara
dapat berdiri tanpa tank dan meriam.
Tetapi, suatu bangsa tidak mungkin eksis tanpa keyakinan.” Keyakinan yang tumbuh melalui sistem makna
yang tunduk pada imperatif moral bahwa rasionalitas kepentingan pribadi tidak
boleh dibayar oleh irasionalitas kehidupan
publik. Seperti kata John
Gardner, “Tidak ada bangsa yang dapat mencaai kebesaran jika bangsa itu tidak
percaya kepada sesuatu, dan jika tidak sesuatu yang dipercayainya itu memiliki
dimensi-dimensi moral guna menopang peradaban besarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar