Kamis, 25 April 2013

Angel & Demon inside Me, inside us

Otak manusia di desain agar manusia berbuat jujur, tetapi, ada bagian otak manusia yang berperan membuat manusia berlaku tidak jujur.

saat manusia dihadapkan pada hal-hal yang menuntut kejujuran, pikiran sadarnya akan terusik. proses ini berlanggsung di bagian otak depan yang disebut korteks prefrontalis. Bagian otak ini berperan dalam pengambilan keputusan, termasuk tindakan menimbang, menganalisis, hingga meperhitungkan risiko, baik buruk, maupun untung rugi sebuah keputusan atau tindakan.

Proses pengambilan keputusan sejatinya adalah proses berpikir, dengan berpikir, setiap stimulus yang muncul dipilah dan dipilih terlebih dahulu untuk selanjutnya memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan saat berbuat jujur, otak akan mengeluarkan serotonin dan oksitosin, zat kimia pengirim sinyal yang membuat manusia merasa nyaman, tenang lega dan bahagia.
Adapun sat berlku tidak jujur, neurotransmitter yang muncul adalah kortisol yang membuat manusia merasa bersalah, stres, tertekan, waswas, dan tidak nyaman.

Upaya membentuk manusia yang jujur dapat dimulai dari pendidikan yang mengedepankan logika siswa. Hal itu karena kejujuran terkait dengan kemampuan berpikir atau menalar.
Kemampuan berpikir logis akan merangsang dan membiasakan korteks prefrontalis siswa aktif bekerja. selama sistem pendidikan masih mengutamakan kemampuan menghafal dan abai dengan menalar, maka koruptor baru akan terus bermunculan.????

Otak bersifat plastis alias mudahdibentuk. Struktur otak dapat berubah akibat kondisi lingkungan yang berubah.
Karena itu, jika kemampuan menalar tidak diabngun, proses pengambilan keputusan yang mendorong berbuat jujur juga tidak akan berkembang.
Kemampuan logika saja tidak cukup untuk membangun kejujuran. Perbuatan jahat juga bisa dicarikan penjelasan logisnya.

Pendidikan yang mengedepankan kemampuan bernalar juga harus diikuti pemahaman mengenai persepektif yang benar tentang hidup dan hakikat kehidupan. Kearifan, perspektif hidup dan hakikat kehidupan seharusnya dapat diperoleh siswa melalui pendidikan agama.

Namun, kini pendidikan agama di Indonesia masih menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat ritual, bukan membangun spiritual siswa. Pendidikan agama masih berorientasi pada persoalan syariat atau hukum agama, belum menyentuh hakikat atau hal-hal di balik syariat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar