Mengenang cinta berujung maut Ade Sara Angelina Suroto
Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi Manado, Taufik Pasiak.
Pada manusia, cinta tak lagi sekadar rasa memiliki. Cinta pada manusia
memiliki sentuhan rasional yang digerakkan korteks prefrontal di otak
bagian depan.
Cinta itu muncul sebagai dorongan untuk melstarikan sesuatu atas dasar ketertarikan emosional. CInta yang datang akan selalu diikuti rasa memiliki serta hasrat menjaga dan melindungi. Jika rangkaian rasa itu terganggu, muncul pertahanan diri untuk melindungi apa yang dimiliki.
Konsekuensinya, cinta pada manusia akan disertai pemikiran bahwa yang dimiliki itu bisa hilang. Sikap itu hanya bisa diicapai jika seseorang mampu menjaga jarak dengan yang dicintainya karena yang ia cintai bukan dirinya. Cinta sejati dan bernilai tinggi adalah cinta yang siap kehilangan.
Namun, kesadaran itu kerap tak muncul pada remaja. Mereka yang baru mengenal romantika belum mampu menjaga jarak dengan yang dicintainya.
Ketidaksiapan remaja menghadapi hilangnya yang ia cintai membuat asmara remaja kerap diwarnai tragedi. Putus pacaran yang sebenarnya soal biasa berubah jadi drama yang menguras emosi. padahal, putus adalah konsekuensi logis dari pacaran.
Pacaran adalah tahap saling mengenal antara laki-laki dan perempuan, mengenali perilaku diri dan pola relasi dengan pasangan, serta mengevlaluasi hubungan yang dijalin, akan diteruskan hingga pernikahan atau tidak. Putus berarti ada kesadaran atas ketakcocokan antara dua individu.
Sedih saat putus cinta adalah respons sehat. Namun, harus dijaga agar kesedian itu tak berkepanjangan sehingga bisa segera mengambil pembelajaran atas hal yang sudah terjadi dan siap menatap langkah baru.
Masalahna, remaja dan orang dewasa awal berusia 18-22 tahun sering berpacaran dengan tujuan berbeda, mulai dari hanya ingin bersenag-senang, karena tekanan teman, demi kebanggaan diri, hingga ingin bereksperimen soal seks. Agar pacaran sehat, tujuan pacaran harus diingat.
Pacaran sehat mirip persahabatan, saling berbagi emosi, tetapi ada ikatan ketertarikan dan rencana jangka panjang. Karena itu, pacaran sehat bisa jadi media saling mengeksplorasii potensi diri dan pasangan.
Jika muncul sikap posesif, tuntutan, dan keharusan melakukan sesuatu atau pembatasan melakukan hal positif sebelum apcaran, itu gejala pacaran tak sehat. Terlebih lagi jika terjadi kekerasanj, baik fisik, verbal, maupun emosional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar