Satir, bagi redaksi Charlie Hebdo adalah suatu keniscayaan. Satir yang disengaja untuk mengungkap kontradiksi yang hadir dalam masyarakat namun tidak pernah diungkap oleh lembaga biasa, baik itu pemerintah, lembaga pendidikan, pers berita dan lain lain.
Provokasi menjadi alat intelektual, moral, dan politik. Charlie Hebdo, menembus batas tabu. Tidak ada pihak yang tabu diserang, semua kena. Tujuannya, mengkritik kekuasaan, menyerang sang borju, mengolok-olok mereka yang kelewat serius, mengempeskan kaum fanatik, membuka rahasia seksual tokoh moralis, dan satir yang lainnya.
Secara kultural masyarakat Perancis, sikap provokatif ini memang berdarah daging, dimana, secara historis, praktik kebebasan atau liberte identik dengan menantang segala larangan dan tabu. Sejak Rabelais (1494-1553), dan terutama Voltaire (1694-1778), satir sarkastik senantiasa menjadi sarana untuk melepaskan diri dari kekangan ketat teokrasi (negara agama) Katolik dan melahirkan kesadaran baru serta kebebasan individual. perjuangan panjang itu bermura pada Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara pada awal Revolusi Perancis (1789-1799) dan pada situasi kekinian, di mana kuasa agama dibatasi pada ruang privat dan tidak lagi ditentukan oleh negara.
Liberte itu kini berlaku mutlak, dengan sendirinnya delik pelecehan agama hilang relevansi. Satir menjadi kultur, selama majalah satir bersikap merdeka, pintar dan lucu, ia dihormati oleh siapapun termasuk lawan ideologisnya. begitulah logika liberte mutlak yang berlaku di perancis dan di barat pada umumnya dengan aneka varian.
Itu kemudian menjadi akar masalahnya. nilai kebebasan (luhur) yang dibanggakan orang Perancis dan barat lainnya dan kemudian diupayakan disebarluaskan di seluruh dunia atas nama universalisme, akhirnya justru kerap dianggap tidak universal dan malahan dirasa sebagai ancaman, dan wajah baru imperialisme Barat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar