Senin, 30 September 2013

Rolex

Rolex didirikan seorang pemuda Jerman, Hans Wilsdrof, dan sudara iparnya, Law William Davis, pada 1905.  Wilsdrof, seorang perfeksionis yang mengembangkan standar pembuatan jam tangan.  pada 1926, Wilsdrof menciptakan sistem casing antidebu dan anti-air yang dikenal sebaai casing Oyster.

Pengenalan terbatas casing Oyster dilakukan oleh erenang wanita peratma Inggris yang berhasil menyeberani Selat Inggris, Mercedes Gleitze.  Aksi berani yang dilakukan Mercedes itu ditemani arloji Rolex Oyster yang ditawarkan Wilsdrof.  ebulan setelah uji coba itu, terbukti Rolex buatan Wilsdrof memang kedap air.  Wilsdrof pun lantas menggelar publikasi besar besaran di koran-koran inggris.

namun, ada masalah kecil yang terselib pada arloji hebat ini.  Untuk mengisi ulang tenaga jam tangan Oyster ini, pemakai harus unscrew (membuka)kenop terlebih dahulu.  Setelah itu, dikunci kembali dngan kencang.  Akibatnya, lama-kelamaan rutinitas kecil ini mudah dilupakan orang sehingga titik air atau debu yang amat kecil ini bisa masuk ke dalam mesin arloji.

Persoalan ini teratasi pada 1931 saat Emile Borer menemukan  mekanisme perpetual winding. Borer adalah anak menantu keluarga Aegler danmenjadi petinggi pada pabrik Rolex di Bienne.  Temuan ini menghilangkan kewajiban memutar kenop untuk mendapatkan tenaga, sebag tenaga akan lagnsun tersimpan saat pemakai arloji bergerak.  kenop baru dibuka saat mencocokkan jarum jam saja.

Analekta

Analekta, kebijakan yan tak lekang oleh waktu

Selama 2.500 tahun terakhir, ide-ide konfusius dinyatakan dalam karyanya, Analekta.  Buku ini merupakan satu dari 50 buku paling berpengaruh di dunia.  Penekanan konfusius pada keharusan berbuat kebajikan, disiplin ribadi di antara para panguasa; kebutuhan akan teladan dibandingkan sanksi hukum, dan hak-hak individu pada orang paling naas sekalipun, telah menjadikan Analekta amat radikal pada masanya dan sumur ilmu yang tak pernah habis ditimba pada abad-abad berikutnya.


Analekta (Lun yu dalam bahasa mandarin) disusun dalam bentuk percakapan antara Konfusius dan para muridnya.  Buku 20 bab ini mengulas hal-hal seperti pembelajaran, pemerintahan yang lurus, kemanusiaan, dan pentingnya ritual.  Visi Analekta adalah masyarakat yang saling mendukung, dengan hak dan tanggung jawab segenap masyarakat yang diakui.  Anda tidak boleh melarang petani yang sederhana untuk memberikan pendapatnya," ujar Konfusius.

Meski pemikiran Konfusius soal keajekan kadang dituduh sebagai penyebab lambatnya modernisasi, politik, dan teknologi di China, penekanannya pada hubungan antarkeluarga masih sangat berpengaruh hingga saat ini.  Bahkan, pada Januari 1988, ketika para pemenang Nobel di Paris membahas soal isu besar yang dihadapi dunia, salah satu kesimpulan mereka adalah: "Jika umat manusia ingin tetap bertahan, mereka harus kembali 25 abad ke belakang untuk menggali kebijakan Konfusius."