Rabu, 26 Juni 2013
Jan Huygen Van Linschoten dan Plancius, cikal bakal penjajahan Belanda
Sebuah Cuplikan, E.S Ito dalam buku Rahasia Meede
Dia datang dari Haarlem. Kota pesisir dimana mulut sungai Spaarne mengecup hangat bibir lautan Atlantik. Di masa itu, Groote Kerk yang masyhur itu belum tampak menua. Bangunan gereja itu masih tampak seperti perawan bimbang menunggu pinangan. Pesona kecantikannya menjerat. Berselang tahun yang terhitung jari sebelum dia meninggalkan kota itu, ada catatan luka bercampur bangga terpahat pada tembok kota. DIa melihat Haarlem dalam genangan darah, ketika serdadu Spanyol pimpinan Fernando Alvarez de Toledo atau Duke of Alva, datang pada tahun 1572. Dia mendengar bisik perlawanan terhadap tentara pendudukan Katolik itu. Dan, dia pula yang ikut berdiri di pinggir jalan mengelu-elukan Willem I ketika Sang Pangeran Orane membebaskan kota itu empat tahun kemudian.
Lelaki itu bernama Jan Huygen Van Linschoten. Dari Haarlem dia mencari peruntungan ke Lisabon. Selama empat tahun di kota yang menjadi pusat pencarian dunia baru itu, dia mengabdi pada keuskupan. Bersama dengan para pedagang, tentara dan kaum paderi, dia mengarungi dua samudera hingga berlabuh di Goa, India. Koloni Portugis di Timur Jauh. Lima tahun lamanya dia menjadi sekretaris uskup disana. Pergeseran kendali dagang mulai terlihat. Arab yang selama ini menjadi perantara komoditi Timur Jauh ke bumi utara mulai kelelahan. Orang-orang Moor itu telah kehilangan inovasi. Penaklukan Byzantium oleh Muhammad II, satu abad sebelumnya tidak banyak membantu. Turki Utsmani bukan Arab walaupun mereka yang pegang kendali kekhalifahan. Portugis dan Spanyol semakin mencengkeram dunia. Mengendalikan laut dan perdagangan di semua samudra. Lalu, dimanakah posisi bangsa Belanda?. Van Linschoten bimbang. Bangsanya jauh ketinggalan. Bayangan Haarlem tampak di pelupuk mata.
Risalah perjalanan bersama pelaut Portugis mulai dia tuliskan. Sebuah catatan untuk menguasai masa depan yang dia beri judul, Itinerario, Voyagie ofte Schipvaert der Portugaloysers van Jan Huygen Van Linschoten naar Oost-ofte Portugaels Indien. Sebuah catatan harian perjalanan ditambah dengan ctatan praktis yang sangat langka dia publikasikan ketika kembali ke tanah kelahirannya. Cerita tentang perdagangan orang Portugis di negeri rempah dan Jawa. Dan, yang lebih penting adalah informasi mengenai kemunginan pedgang lain masuk dalam persaingan dagang itu. Itinerario, kitab itu menjelang akhir abad ke-16 begitu erharga di tengah-tengah bangsa Belanda yang terus menderita akibat perang berkepanjangan dengan Spanyol.
Inilah awal mula penjajahan Belanda....
Tulisan dalam kitab karangan Van Linschoten itu adalah sebuah sketsa peta yang belum tergambar. Dia menyebutkan laut dan tempat tanpa jalur. Pengetahuan yagn sebenarnya sangat dirahasiakan oleh Portugis dan Spanyol. Tulisan itu harus diterjemahkan kewat garis dan legenda dalam peta. Di penghujung abad, garis sejarah tampak berpihak pada negeri kecil di daratan rendah Eropa itu.
Peter Plancius, tidak ada yang meragukan keajaiban tangannya. Plancius adalah seorang penerjemah kata paling ulung untuk diubah menjadi peta. Dalam memori otaknya, tersimpan lebih dari dua puluh lima macam jenis peta. Reysgeschrift, dia terjemahkan dengan baik. sebuah jalur untuk mengarungi samudera terbuka untuk bangsa Belanda. Sejarah tengah bergeser, mereka tidak lagi sekadar perantara dagang di tengah bangsa Eropa.
CORNELIS DE HOUTMAN
Sejarah yang murah hati itu memberikan pada bangsa Belanda seorang pemberani yang lebih dikenal sebagai pembual dan tukang bikin onar. Cornelis de Houtman, laki-laki pemberang itu pernah tinggal di Lisabon dan dikenal sebagai jago pedang. Dia dipercaya oleh Compagnie van Verre untuk memimpin ekspedisi menuju Timur Jauh dengan menggunakan rute yang telah dibuat oleh Plancius. Van Verre, sindikat untuk membiayai perjalanan itu muncul setelah sekian banyak kegagalan mencari jalan ke arah timur. Dia berangkat pada bulan April 1595. Dengan empat buah kapal, dia ternyata berhasil menapaki jalan yang telah digoreskan oleh Plancius.
Pulau Enggano di barat Bengkulu adalah daratan Nusantara pertama yang dijamah oleh sindikat dari elanda. Pada bulan Juni 1596, rombongan itu berlabuh di Pelabuhan Banten. Mereka diterima dengan baik hingga insting binatang par penyamun dari utara itu muncul. Mereka terusir, tetapi terus menyusuri lautan Nusantara dan beragam pelabuhan di mana mereka melihat bendera Portugis banyak berkibar. Pada bulan Agustus tahun 1597, armada itu berlabuh kembali di Texel, Belanda. BUkan sebuah perjalanan yang bisa dianggap sukses. Armada itu mencatat, hanya tiga dari empat kapal yang kembali. Sementara dari 243 orang awaknya, hanya 89 orang yang bisa kembali. Tetapi, jalan menuju Timur Jauh telah terbuka lebar. Ada perayaan besar menyambut kedatangan para pemberani itu.
Itulah pangkal dari segla nasib buruk. Penjajah yang mendidik mental moyang untuk teguh dalam menderita dan malas dalam berkarya. Mental dan sikap hidup yang diwariskan turun-temurun sampai generasi ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar