Orang-orang yang melakukan kekerasan adalah mereka yang punya
kepribadian neurosis. Dia mencari legitimasi dari agama, dari ideologi,
dari apa pun ......
Saya
mungkin hanya bisa menulis, bicara, bahkan terdengar dan atau terlihat
asal bicara alias asmo tanpa bisa berbuat apa apa, hanya karena saya
merasa, saya tidak punya daya atau pemegang kebijakan pada bidang
tertentu.....
Seseorang yang
punya kesombongan, arogansi, kemarahan, dan dendam akan cenderung
membalas, menjadi otoriter, terlepas apakah dia laki-laki atau
perempuan. Ada studi memperlihatkan, laki-laki penindas belajar
kekerasan dari orangtuanya.
Orang-orang yang melakukan
kekerasan adalah mereka yang punya kepribadian neurosis. Dia mencari
legitimasi dari agama, dari ideologi, dari apa pun. Orang yang memaksa
istrinya di rumah, tidak boleh keluar rumah, adalah orang yang punya
masalah di dalam dirinya.
Saya melihat sistem pendidikan
mainstream justru mencegah anak memiliki sifat-sifat baik. Filosofi
scientific modern selalu harus 'obyektif', rasional, reduksionis, dan
deterministik, tak boleh punya keterlibatan emosi, sehingga ada
pemisahan antara mind, body, and soul.(Ratna Megawangi PhD)
Semua
itu terlihat dalam mata pelajaran di sekolah dan sistem pendidikan yang
terpilah-pilah. Kita tak bisa melihat gambaran yang lebih luas,
berpikir sempit, terfragmentasi, dan emosi tidak berkembang.
Betapa
inginnya, tersedia sebuah sistem pendidikan, terutama pada usia dini
yang mengajarkan anak-anak punya rasa percaya diri, spirit tinggi,
toleran, dan kreatif. Kami tak memberi nilai, apalagi ranking, agar tak
tertanam sifat kompetisi negatif. Sistem pengajarannya menyeluruh, tak
memisahkan mind, body, and soul.
Mata pelajarannya
character based integrated learning (pendidikan terintegrasi berbasis
karakter). Misalnya, air, dilihat dari berbagai perspektif, sehingga
anak terbiasa melihat secara holistik. Perlu perubahan paradigma dalam
mendidik manusia karena ini lintas budaya dan agama untuk membentuk
manusia yang saling menghargai.
Jadi, saya bisa bilang
sama anak-anak saya kelak, kalau cari suami atau istri, yang penting
bukan status sosialnya (meski harus ada di nomer dua atau tiga), tetapi
punya masa kecil dan masa di sekolah yang bahagia hahahaha ......
saya punya alasan yang kuat untuk yang satu ini, mengingat:
Sumber
kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat dimulai dari rumah yang hangat
dan penuh penghormatan pada masing-masing individu dalam keluarga. Juga,
sekolah yang menumbuhkan rasa bahagia bagi anak.
Namun, berbagai
peristiwa semakin menunjukkan banyaknya manusia tanpa nurani, neurosis,
dengan sifat-sifat arogan, menindas, tak mau kalah, agresif, dan tak
toleran. Sumbernya adalah tekanan, kecemasan, ketakutan, minder, tak
punya harga diri, dan apatis. Ironisnya, sistem pendidikan kita justru
menciptakan suasana seperti itu.
tekanan sekolah,
persaingan tak sehat, sejak dini anak dididik mengalahkan kawan,
pelajaran terfragmentasi, serta tidak menumbuhkan semangat dan motivasi.
"Mata
pelajaran hafalan, 90 persen ujian nasional hafalan. Yang berkembang
hanya mechanical intelligence, (kecerdasan mekanis) bukan creative
intelligence (kecerdasan kreatif) ataupun wisdom (kearifan). Anak pintar
yang biasanya rangking satu jatuh ke ranking tiga, langsung down (patah
semangat)."
Di sisi lain, yang berkembang adalah pola
pengasuhan anak yang buruk. "Neurosis datang dari gabungan bad schooling
(proses pengajaran yang buruk) dan bad parenting (pola pengasuhan yang
buruk). Ada kemarahan, kecemasan berkepanjangan dari TK sampai SMA. Ini
cikal bakal intoleransi.......
Sumber: Forum Pembaca Kompas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar