Selasa, 29 Mei 2012

kalau cari suami atau istri, yang penting bukan status sosialnya, tetapi punya masa kecil dan masa di sekolah yang bahagia ...

Orang-orang yang melakukan kekerasan adalah mereka yang punya kepribadian neurosis. Dia mencari legitimasi dari agama, dari ideologi, dari apa pun ......

Saya mungkin hanya bisa menulis, bicara, bahkan terdengar dan atau terlihat asal bicara alias asmo tanpa bisa berbuat apa apa, hanya karena saya merasa, saya tidak punya daya atau pemegang kebijakan pada bidang tertentu.....


Seseorang yang punya kesombongan, arogansi, kemarahan, dan dendam akan cenderung membalas, menjadi otoriter, terlepas apakah dia laki-laki atau perempuan. Ada studi memperlihatkan, laki-laki penindas belajar kekerasan dari orangtuanya.

Orang-orang yang melakukan kekerasan adalah mereka yang punya kepribadian neurosis. Dia mencari legitimasi dari agama, dari ideologi, dari apa pun. Orang yang memaksa istrinya di rumah, tidak boleh keluar rumah, adalah orang yang punya masalah di dalam dirinya.

Saya melihat sistem pendidikan mainstream justru mencegah anak memiliki sifat-sifat baik. Filosofi scientific modern selalu harus 'obyektif', rasional, reduksionis, dan deterministik, tak boleh punya keterlibatan emosi, sehingga ada pemisahan antara mind, body, and soul.(Ratna Megawangi PhD)

Semua itu terlihat dalam mata pelajaran di sekolah dan sistem pendidikan yang terpilah-pilah. Kita tak bisa melihat gambaran yang lebih luas, berpikir sempit, terfragmentasi, dan emosi tidak berkembang.

Betapa inginnya, tersedia sebuah sistem pendidikan, terutama pada usia dini yang mengajarkan anak-anak punya rasa percaya diri, spirit tinggi, toleran, dan kreatif. Kami tak memberi nilai, apalagi ranking, agar tak tertanam sifat kompetisi negatif. Sistem pengajarannya menyeluruh, tak memisahkan mind, body, and soul.

Mata pelajarannya character based integrated learning (pendidikan terintegrasi berbasis karakter). Misalnya, air, dilihat dari berbagai perspektif, sehingga anak terbiasa melihat secara holistik. Perlu perubahan paradigma dalam mendidik manusia karena ini lintas budaya dan agama untuk membentuk manusia yang saling menghargai.

Jadi, saya bisa bilang sama anak-anak saya kelak, kalau cari suami atau istri, yang penting bukan status sosialnya (meski harus ada di nomer dua atau tiga), tetapi punya masa kecil dan masa di sekolah yang bahagia hahahaha ......
saya punya alasan yang kuat untuk yang satu ini, mengingat:
Sumber kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat dimulai dari rumah yang hangat dan penuh penghormatan pada masing-masing individu dalam keluarga. Juga, sekolah yang menumbuhkan rasa bahagia bagi anak.
Namun, berbagai peristiwa semakin menunjukkan banyaknya manusia tanpa nurani, neurosis, dengan sifat-sifat arogan, menindas, tak mau kalah, agresif, dan tak toleran. Sumbernya adalah tekanan, kecemasan, ketakutan, minder, tak punya harga diri, dan apatis. Ironisnya, sistem pendidikan kita justru menciptakan suasana seperti itu.

tekanan sekolah, persaingan tak sehat, sejak dini anak dididik mengalahkan kawan, pelajaran terfragmentasi, serta tidak menumbuhkan semangat dan motivasi.

"Mata pelajaran hafalan, 90 persen ujian nasional hafalan. Yang berkembang hanya mechanical intelligence, (kecerdasan mekanis) bukan creative intelligence (kecerdasan kreatif) ataupun wisdom (kearifan). Anak pintar yang biasanya rangking satu jatuh ke ranking tiga, langsung down (patah semangat)."

Di sisi lain, yang berkembang adalah pola pengasuhan anak yang buruk. "Neurosis datang dari gabungan bad schooling (proses pengajaran yang buruk) dan bad parenting (pola pengasuhan yang buruk). Ada kemarahan, kecemasan berkepanjangan dari TK sampai SMA. Ini cikal bakal intoleransi.......

Sumber:  Forum Pembaca Kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar