Di Akhir abad ke-19, bahkan konon menjadi salah satu stasiun KA peling megah di dunia karena tuntutan kebutuhan internasional. memiliki sistem pengamanan ketat, dengan jumlah personel yang lebih dari memadai. Untuk memberi jaminan, di stasiun ini juga dibangun penjara.
Meski pengamanan dilakukan ketat, stasiun ini tak kehilangan kenyamanannya. Selain memiliki ruang-ruang tunggu yang luas, stasiun ini dilengkapi bar dan ruang dansa-dansi, bahkan penginapan.
Buku Sejarah Kota Tua (Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta 2007) menulis, setelah Terusan Suez di Mesir dibuka pada bulan November 1869, perdagangan negara-negara Eropa dengan Asia kian ramai. Kegiatan angkutan kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa pun meningkat pesat.
Pelayanan dan fasilitas yang ada menjadi tidak memadai lagi. Pelabuhan pun sudah berubah dari hanya sebagai sebuah pelabuhan pengumpul rempah-rempah menjadi pelabuhan internasional.
Melihat keadaan ini, pemerintah kolonial Hindia Belanda berniat mengalihkan pelabuhan ke Tanjung Priok. Untuk mengangkut bahan-bahan guna membangun pelabuhan, pemerintah membeli KA dan membuat jaringan relnya.
Tahun 1877, setelah jaringan selesai, dibangunlah stasiun kecil yang diresmikan pada tanggal 3 november 1885. Sejak itu, secara bertahap, kegiatan perdaganganpun bergeser dari pelabuhan Sunda Kelapa ke Pelabuhan Tanjung Priok.
Agar kegiatan angkutan laut dan darat terintegrasi, pada tahun 1914 Gubernur Jenderal Hindia Belanda AFW Idenburg mulai membangun Stasiun Tanjung Priok, yang berlokasi satu kilometer dari stasiun kecil tadi.
Untuk membangun stasiun seluas 3.768 meter persegi di atas tanah seluas 46.930 meter persegi ini, dikerahkan 1.700 tenaga kerja. sebanyak 130 diantaranya adalah orang Eropa.
Stasiun ini karya arsitek CW Koch. Dinding-dindingnya dihiasi kaca patri dan keramik. Stasiun memiliki delapan peron, bar, dapur, ruang pesta, dan tempat penginapan di sayap kiri dan kanan bangunan.
Tanggal 6 April 1925, stasiun nan mewah ini diresmikan penggunaannya. Kereta listrik seri 3200 mulai beroperasi.
Pembangunan stasiun KA ini, seperti ditulis buku Sejarah Kota Tua, menandai stabilnya pemerintahan dan pesatnya laju perekonomian.
KEmajuan teknologi juga ikut melatarbelakangi pembangunan KA ini. Tahun 1850-1900, pemerintah kolonial Hindia BElanda memanfaatkan kemajuan teknologi pasca-revolusi industri. Pada tahun 1856 dibangun jaringan telegraf Batavia-Buitenzorg (Bogor). tiga tahun kemudian jaringan diperluas sampai singapura meski pembangunannya baru selesai pada 1870.
Tahun 1861, jaringan gas selesai dibangun. Setahun kemudian mulai dimanfaatkan untuk penerangan jalan. Pada tahun 1882, kereta uap mulai beroperasi, menggantikan trem kuda yang diperkenalkan tahun 1869.
Kamis, 30 Mei 2013
Braga, Jantung Paris Van Java
Kemunculan Braga tidak lepas dari kebutuhan warga baru Bandung, orang Eropa, pada awal abad ke-19. Di antaranya kemudahan mendapatkan kebutuhan sehari-hari dan sekadar melepas kangen pada kebiasaan yang dilakukan di tempat asalnya.
Celah bisnis itu dimanfaatkan dengan baik oleh CA Hellerman. Ia melihat Braga sebagai tempat strategis. MEski dianggap daerah angker dan menyeramkan, jalan ini kerap digunakan sebagai jalur transportasi utama saat itu.
Kawasan ini menjadi lebih populer setelah di dekatnya dibangun jalan pos pada era Gubernur Jenderal Daendels. Tahun 1894, Hellerman menbuka toko pertama di Braga yang menjual senjata api, sepeeda, dan kereta kuda. Selanjutnya berturut-turut dibangun bangunan lain.
Dalam buku Braga: Jantung Parijs Van Java, karya penulis Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha disebutkan, salah satu yang terkenal adalah toko Mode au Bon Marche (1913). Toko ini selalu terdepan dalam model terbaru dari pusat mode di Paris, Perancis.
Ada juga peninggalan rumah makan terkenal, Maison Bogerijen (1923). Rumah makan ini sekrang bernama Braga Permai, adalah satu-satunya restoran di Bandung yang diizinkan menyajikan hidangan khas Koningin Emma Tart dan Wilhelmina Tar oleh Kerajaan Belanda.
Sebelumnya, dibangun Societet Concordia (1894). Para Preanger Planters menggunakan tempat ini untuk erpesta setiap akhir pekan. Pertunjukan musik atau tonil menjadi sajian utama.
Dengan kemewahan itu, para Gubernur Jenderal Hindia Belanda serta pemilik perkebunan teh di priangan (Preanger Planters) menjadi pelanggan Braga.
Tak pelak, julukan De Meest Europesche Winkelstraat van Indie atau jalan di Hindia yang paling mirip dengan eropa disematkan pada Braga.
Toko mobil Fuchs en Rens (1919) adlah distributor mobil, seperti Renault, Packard, hingga plymouth dan de soto. Kaum pemodal Preanger Planters konon harus berebut bila ingin mendapatkan mobil disana.
Celah bisnis itu dimanfaatkan dengan baik oleh CA Hellerman. Ia melihat Braga sebagai tempat strategis. MEski dianggap daerah angker dan menyeramkan, jalan ini kerap digunakan sebagai jalur transportasi utama saat itu.
Kawasan ini menjadi lebih populer setelah di dekatnya dibangun jalan pos pada era Gubernur Jenderal Daendels. Tahun 1894, Hellerman menbuka toko pertama di Braga yang menjual senjata api, sepeeda, dan kereta kuda. Selanjutnya berturut-turut dibangun bangunan lain.
Dalam buku Braga: Jantung Parijs Van Java, karya penulis Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha disebutkan, salah satu yang terkenal adalah toko Mode au Bon Marche (1913). Toko ini selalu terdepan dalam model terbaru dari pusat mode di Paris, Perancis.
Ada juga peninggalan rumah makan terkenal, Maison Bogerijen (1923). Rumah makan ini sekrang bernama Braga Permai, adalah satu-satunya restoran di Bandung yang diizinkan menyajikan hidangan khas Koningin Emma Tart dan Wilhelmina Tar oleh Kerajaan Belanda.
Sebelumnya, dibangun Societet Concordia (1894). Para Preanger Planters menggunakan tempat ini untuk erpesta setiap akhir pekan. Pertunjukan musik atau tonil menjadi sajian utama.
Dengan kemewahan itu, para Gubernur Jenderal Hindia Belanda serta pemilik perkebunan teh di priangan (Preanger Planters) menjadi pelanggan Braga.
Tak pelak, julukan De Meest Europesche Winkelstraat van Indie atau jalan di Hindia yang paling mirip dengan eropa disematkan pada Braga.
Toko mobil Fuchs en Rens (1919) adlah distributor mobil, seperti Renault, Packard, hingga plymouth dan de soto. Kaum pemodal Preanger Planters konon harus berebut bila ingin mendapatkan mobil disana.
Langganan:
Postingan (Atom)
