Selamat hari ulang tahun, Bung Karno. Anda akan selalu ada dihati rakyat
Indonesia. Semoga anda tenang disisi Allah dan diampuni segala
dosa-dosa anda. Dan semoga ketulusan anda dalam memimpin bangsa untuk
memerdekakan negara Indonesia ini ditahun 1945, mendapatkan pahala-Nya.
Amin.
...................
"Aku tidak tidurselama enam tahun.Aku tak dapat lagi tidur
barangsekejap. Kadang-kadang, di larut tengah malam, aku
menelponseseorang yang dekat denganku seperti misalnyaSubandrio, Wakil
Perdana MenteriSatu dan kataku, 'Bandrio datanglah ke tempatsaya,
temanisaya, ceritakan padakusesuatu yang ganjil, ceritakanlahsesuatu
lelucon, berceritalah tentang apasaja asal jangan mengenai politik. Dan
kalausaya tertidur, maafkanlah.' Aku membacasetiap malam, berpikirsetiap
malam dan akusudah bangun lagi jam lima pagi. Untuk pertama kali dalam
hidupku aku mulai makan obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah."
Ungkapan Bung Besar, Presiden RI PertamaSoekarno itu di curahkannya
kepada Cindy Adams danselanjutnya dibukukan dengan judul: Bung Karno
Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.Sekaligus pertanda betapa masalah
politik disaat-saat itu menggerogoti jiwanya.Sepertinya Bung Karno tidak
mampu menghadapi gelombang cacian dan makian dari
bangsanyasendiri.Inilah awalsenja kehidupan Bung Karno, berteman
dengansepi.
Menjelang kejatuhan Bung Karnosebagai
Presiden RI, Lembert J.Giebels, mantan anggota Majelis Rendah Parlemen
Belanda, menulis dalam bukunya: Pembantaian yang Ditutup-tutupi
Peristiwa Fatal disekitar Kejatuhan Bung Karno, terjemahan dari judul
aslinya DeStille Genocide. De fatale gebeurtenissen rond de val de
Indonesische PresidentSoekarno.
Lembert menulis,"
Dikelilingi oleh diplomat, jurnalis dan anggotastaf Istana,Soekarno
berlakuseakan akan ia masih tetapseorang kepala negara yang maha kuasa.
Namun gambar-gambar televisi mengungkapkan bahwaSoekarno menyadari bahwa
ia hanya memainkan peransebagai Presiden. Pemirsa bisa melihat
bagaimana Presidensecara demonstratif menandatanganisuratsurat di
pangkuansekretarisnya, dengan gelisah menghela asap rokoknya yang telah
ia cabut dari kantong bajusalahseorang yang berdiri dalam lingkaran
itu...Dengansebuah gerakan tangan tidaksabar Presiden menyuruh pergi
Menteri Luar Negeri Adam Malik, tanpa memandangnya.Sesudah itu ia
menanggalkan bajuseragamnya dansambil disana membetulkan lukisan yang
miring dan meniup debu yang tidak ada dari bajunya., dengan baju kemeja
dan bretel yang tergantung lepas, ia tampak menghilang dari layar
televisi."
Beban psychologis, itulahsebenarnya yang
dialamiSoekarno disaat-saat kejatuhannya. Dia berjalansendiri tanpa ada
orang-orang yang ikut membantunya.
Hari
Minggusiang,tanggal 21 Juni 1970 tersiar berita Presiden Pertama RI,
Ir.Soekarno meninggal dunia. Bambang Widjanarko melukiskan bahwasuasana
waktu itu bagaikan mendengar guntur menggelegar di tengahsiang hari yang
terang, masyarakatsangat terkejut dibuatnya. Heningsejenak bagaikan
arwahsendiri meninggalkan raga, tak terasa air mata mengalir pelan yang
akhirnya menderas lebat membasahi muka. Tidak rasa malu karena menangis,
taksedikit pula yangsampai menjerit histeris...seluruh kegiatansejenak
terhenti, disusul dengan kasak kusuk pembicaraan di kantor, di rumah, di
jalan, di toko, di pasar, di mana pun manusia Indonesia berada. Bangsa
Indonesia telah kehilangansalahseorang pemimpinnya yang menonjol;.Ibu
pertiwi telah kehilanganseorang puteranya.
Bung
Karno meninggal karena kesehatannyasemakin harisemakin menurun.Sejak
awal 1965, penyakitnyasudah hampir menggerogoti tubuhnya. Hal ini
terungkap dari pernyataan Amarzan Loebis, wartawansenior yangsangat
aktif meliput peristiwa di lingkungan Istana waktu itu:
"Tetapisesungguhnyalah, terutamasejak awal 1965, kesehatannya
(Soekarno) tak lagi bagus. Pada awalSeptember tahun itu, ketikasaya
menyertaiserombongan penghadap yang ikutsarapan pagi di beranda Istana
Negara, kami menyaksikan berbagaisuntikan, pil, kapsul dan madu Arab
bolak-balik disodorkan oleh tim kesehatan kepresidenan yang mendampingi
Bung karno. Pada acara-acara malam pun,setelah acara resmi, Bung Karno
lebihsering melepas sepatu dan tampaklah kakinya yang membengkak," ujar
Amarzan Loebis.
Inilah gambaranselintas
saat-saatsepi Bung Karno. Majalah Tempo, edisi 26 Oktober 2003, hal.71
memberi perhatian besar terhadap Bung Karno: "...kesunyianseorang Bung
Karno. Perintahnya tak dituruti, pidatonya hanya menjadi kembang api;
membuncah lalu hilang bersama malam. Hampir dua tahunsuara Bung Karno
nyaris tak terdengar. Iaseperti tokoh dalam novel Gabriel Garcia
Marquez: lelaki yang melewati waktunya dalam 100 tahun kesendirian."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar